Si Engku Pengelana

Berkereta angin dapat menghilangkan Virus Cinta yang merusak generasi Bangsa..

Engku Nasir

Kereta Angin Engku Nasir yang sedang parkir di hadapan kantor kami.
Kereta Angin Engku Nasir yang sedang parkir di hadapan kantor kami.

Empat hari menjelang berlalunya bulan Januari di tahun 2015 ini kami dan beberapa orang kawan sekantor menapat seorang tamu yang datang ke kantor kami. Sebenarnya tamu kantor. Tamu ini ialah seorang engku muda yang berumur 28 tahun, datang dengan kereta angin (sepeda) dengan jenis kereta BMX. Ada yang lain pada kereta angin engku ini, terdapat satu tiang bendera diatas sumbu roda bagian belakangnya, juga terdapat Nomor polisi dengan nomor BH 914 SLU dengan tulisan bagian bawahnya ialah Sabang/Merauke. Juga terdapat satu speaker aktif yang diikatkan ke stang keretanya. Melalui speaker aktif ini beliau memutar lantunan saluang dikesendiriannya “Menentramkan, dimanapun berada serasa dikamung awak rasanya..”

Saluang tak hanya diputar di atas kareta angin tatkala dia sedang mengelana ini saja, di gerobak satenya juga diputarnya lantunan paimbau pulang  ini.

“Perasaan pernah melihat kereta ini..” seru kami dalam hati. Dan memang kami pernah melihatnya, pagi tadi sewaktu akan berangkat ke kantor, kereta ini sedang parkir di atas trotoar, tepatnya kalau kami tak salah ialah di hadapan Rumah Sakit Ahmad Muchtar.

Kami temui engku ini ketika sedang duduk-duduk dengan beberapa orang kawan di kedai Buk RW yang berada tepat di sebelah kantor kami, adapun dengan keretanya di parkirkan di tempat parkir onda (motor) di halaman muka kantor kami. Tatkala pertama bersua di kedai kami belum menyadari akan diri engku muda ini, maka dari itu awalnya kami mengira beliau ini ialah salah seorang anggota event organizer yang hendak mengadakan acara di kota ini. Betapa takkan salah faham dengan celana selutut, baju kaos oblong bewarna hitam, sandal gunung, dan tas pinggang menambah kesan tersebut.

Engku Nasir
Engku Nasir

Muhammad Nasir nama engku muda ini, beliau berasal dari Nagari Malalak di Kabupaten Agam yang bersukukan Piliang. Telah tujuh tahun engku Nasir ini pergi merantau ke Kota Jambi, berdagang sate ia. Dagangannya dikenal orang dengan “Sate Mamang Bendera”, Mamang berarti abang bagi masyarakat Jambi adapun kata bendera disematkan karena engku Nasir suka menaruh bendera pada gerobak satenya. Ada jua yang menggelari dagangannya dengan “Sate Tronton” hal ini bermula ketika engku muda ini memakai klason yang memakai pompa untuk membunyikan dimana bunyinya menggelegar serupa bunyi klason Bus Tronton.

Selasa kemarin dia sampai di Bukit Tinggi, semalam dia bermalam di masjid saja, sebelum datang ke Bukit Tinggi dia singgah terlebih dahulu ke kampung halamannya Malalak. Salah seorang kawan bertanya kepada dirinya “Bagaimana tanggapan orang kampung perihal engku..?”

“Saya dikatakan gila engku..” jawapan ini mengundang gelak tawa kami semua “Apabila telah tampak oleh orang kampung kereta berbendera saya maka akan berujar mereka ‘tengoklah, orang gila itu telah pulang pula..‘ saya diam tiada menanggapi” kisahnya.

“Tenang saja engku, sekarang engku dikatakan gila, tapi esok apabila engku telah berjaya ataupun terkenal sampai masuk tivi pasti akan dielu-elukan oleh orang kampung engku..” jawab seorang kawan.

Kereta Angin Berbendera
Kereta Angin Berbendera

Engku Nasir ini pernah masuk tivi agak sekali, di TV One, ketika itu ia sedang lalu di bundaran HI, dihentikan dan diwawancarai.

Ketika ditanya perihal motivasi si engku melakukan perjalanan Keliling Indonesia dengan Kereta Angin ini, si engku menjawab tiada ada. Kawan-kawan tiada percaya dan medesaknya “Takkan mungkin tiada alasan engku, mestilah ada, biasanya karena persoalan berat yang menimpa dalam kehidupan ini, serupa  putus cinta atau terlilit hutang..”

Engku Nasir inipun berfikir sejenak “Tiada engku-engku..” jawapnya dan kembali berfikir “Kalau persoalan berat yang pernah saya hadapi memanglah ada, selama enam bulan saya merana karena ditinggalkan oleh ibu kandung saya..”

Kamipun terkejut mendengar kisahnya “Bagaimana kisahnya itu duhai engku..” tanya kami.

“Selepas kematian ayahanda, bunda menikah kembali dengan seorang lelaki yang berasal dari Kerinci kemudian beliau pergi merantau ke Malaysia. Tiada pernah pulang, berkurang perhatian beliau kepada keluarga..” kisahnya.

Engku Nasir dan Kawan-kawan sehabis dari makan tengah hari
Engku Nasir dan Kawan-kawan sehabis dari makan tengah hari

Engku Nasir ialah anak bungsu dari dua orang bersaudara, kakak sulungnya ialah perempuan. Selain saudara kandung ia memiliki saudara seayah, dua orang jadi jumlah saudaranya ada tiga, empat orang bersaudara dengan dirinya.

Berkereta mengelilingi Indonesia, itulah yang dilakoninya sekarang, untuk sementara cuti dahulu menjual sate. Sebenarnya pada tahun 2010 nan silam hal serupa pernah dilakoninya  pula, titik mulainya ialah Kota Padang. Perjalanan keliling Indonesia saat itu dapat dituntaskannya selama satu setengah tahun dengan menggunakan kereta gunung. Dan sekarang dia menggunakan kereta BMX dengan target satu setengah sampai dua tahun. Ketika mendengar keterangan darinya kami semua hanya mangango saja, takjub dengan kenekatan dirinya. Agaknya golongan darah engku Nasir ini ialah N (Nekat). Sesuai pula dengan huruf awal nama belakangnya.

Nomor Polisi Kereta Angin Engku Nasir
Nomor Polisi Kereta Angin Engku Nasir

Selama perjalanannya engku Nasir pernah empat kali disenggol oleh onda, selain itu kegiatan yang dilakoninya ini mendapat decak kagum serta sokongan dari berbagai fihak. Salah satunya ialah fihak Kodim (militer) yang tiada disebutkannya berlokasi dimana, dimana para tentara ini lebih dapat menghargai aksi yang dilakukannya serta sokongan. Ada juga beberapa orang – kalau tiada salah petugas kapal – yang meminta engku Nasir ini untuk menyurati Menteri Perhubungan agar dia dapat digratiskan naik kapal.

Terkenang ia akan nenekknya, kisah neneknya ketika negeri ini masih dikuasai Kaum Penjajah, ketika itu hidup serba susah “Beruntung awak yang hidup dimasa kemerdekaan ini, senang dan tenang. Contohnya awak ini dapat berkereta-kereta keliling Indonesia, kalau masih dijajah, manakan mungkin dapat demikian..” kenangnya.

Ada satu pengalaman engku Nasir yang menarik perhatian kami, ketika dia singgah di negeri yang mayoritas non muslim maka ia akan berhati-hati soal makanan. Pernah ditawari untuk makan oleh beberapa orang yang selalu ditolaknya dengan halus. Sungguh salut kami, rupanya tidak semua orang Islam zaman sekarang yang suka menyepelekan Hukum Islam, bahkan kami dapati sendiri bagaimana beberapa orang kawan yang hanya pergi bebeberapa hari saja ke negeri jauh sudah coba-coba minum alkohol, untuk gagah-gagahan.

Ada satu yang disayangkan kawan-kawan dari diri engku Nasir ini, beliau tiada pandai main internet, kamera ataupun kamera hape untuk dokumentasi dia tiada punya “Kalaulah dapat engku usahakan kamera itu, alangkah sangat baiknya. Foto-foto yang diambil selama dalam perjalanan itulah yang akan menjadi saksi ketabahan engku..” seru kawan-kawan kepada si engku.

Tidak hanya itu, asuransipun si engku tiada punya “Bagaimana kalau terjadi kemalangan di jalan” namun kami fikir-fikir yang namanya rakyat kecil sangat malas apabila disuruh berurusan ini-itu ke kantor-kantor, jadi sikap si engku dapat kami maklumi.

Engku Nasir sedang memegang sesuatu
Engku Nasir sedang memegang sesuatu

Si engku akan melanjutkan perjalanan ke utara, beliau hendak menuju ke Sabang ke Titik Nol dan selepas itu beliau akan kembali menyusuri Jalur Timur Sumatera dan singgah agak sebentar di Jambi guna mengambil beberapa surat.

Sungguh terbit iri di hati ini dan demikian pula dengan kawan kami, hendak pula rasanya berjalan-jalan serupa itu. Mengelilingi berbagai negeri dengan adat resam yang berbeda sehingga bertambah jua pengalaman hidup, terbuka wawasan, dan terpuaskan rasa ingin tahu. Namun apa hendak dikata, diri ini telah terikat dengan ikatan dinas.

“Malalak nagari asal awak, dan Malala kerja awak sekarang..” serunya yang disambut oleh gelak tawa kami semua.

Malala (minang); liar, tidak suka berdiam di satu tempat, suka jalan-jalan, suka traveling

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s