Berjumpa Kawan Lama

Oto buruk papa dari tempat kami duduk
Oto buruk papa dari tempat kami duduk

Kawan  lama kami pulang, sedang libur kuliah, dia sedang mengambil S2, mendapat beasiswa dan tugas belajar dari kantor tempat dirinya bekerja. Orangnya cerdas dan berpengetahuan luas, walaupun telah sehebat itu, kawan kami ini masih kalah jauh dari Samsung yang sudah ada pula yang sampai S6. Magex nama kawan kami tersebut.

Petang hari ketika kami masih di kantor, Magex menelpon minta bersua pada petang hari yang berangin-angin hendak hujan. Kami bersua pada salah satu kawasan food court di kota kami, dimana para “eksekutive muda” di kota ini sering menghabiskan petang. Tempat ini digabung dengan kawasan permainan anak-anak dimana ibu-ibu muda sering membawa anak-anaknya bermain kesini sambil tebar pesona, bagaimana kiranya perasaan suaminya.

Oto buruk kami parkir diantara oto rancak yang belum tentu di beli di toko rancak dot kom. Petang yang dingin dengan ditemani minuman dingin pula menanti kawan yang tengah berada di Padang, hendak ke rumah isterinya, menengok anaknya yang baru beberapa bulan ini lahir. Hujan akhirnya turun beberapa saat menjelang magrib, ibu-ibu muda yang bohai tersebut telah lama pergi bersama anak-anaknya, adapun dengan Kobe (kawan yang kami nanti) masih jua belum ada kabar beritanya, masih di Padang ia.

Akhirnya kami putuskan pulang selepas makan malam di Kampuang Cino, hari Senin kami kembali berjanji.

Namun agaknya hari Seninpun gagal pula karena Magex mengantarkan neneknya berobat ke rumah sakit. Yang ada ialah kami diminta untuk mengawaninya guna  mencari tukang urut di kampung kami, pada malam harinya. Esok ialah Selasa, sama pula nasibnya, Kobe rupanya masih di Padang. Kobe merupakan seorang sopir pada salah satu BUMN di kota ini, tampaknya induk semangnya sering melakukan perjalanan ke Padang.

Pada hari Selasa ini kami habiskan petang makan katupek di Los Lambuang dan disambung dengan duduk-duduk di bawah Jam Gadang, mengawasi para pengunjung. Padahal kami tidak sedang dalam masa dinas dan Magexpun bukan pegawai sini. Sempat pula mencari-cari batu akik yang dipesan kawannya dari Jakarta “Tolong carikan awak Batu Raja..”  kata kawannya.

Batu  Raja, terkenang kami dengan Kesatria Baja Hitam. Ada yang mengatakan kalau Batu Raja itu sama dengan Zamrud.

Esoknya pada hari Rabu, kami menghabiskan petang di Pos RW di dekat kantor kami. Salah seorang kawan kantor kami, Saidi Palindih yang juga kawan kuliah kami merupakan kawan Magex semasa SMA dahulu, satu SMA mereka hanya sampai pada Cawu* I saja selepas itu Magex pindah sekolah ke kota. Kami bercakap-cakap sampai pukul enam, kemudian baru membubarkan diri.

Sebelumnya Kobe telah kami telpon “Telah sampai awak di kantor, selepas Magrib mungkin ke Guguak Randah..” Guguak Randah ialah kampung isterinya. Kemudian pada pukul enam lewat sepuluh kembali kami telpon “Sedang di Panorama awak..” Panorama ialah kampungnya. Maka dengan segera kami buat saja janji hendak ke rumahnya.

Bergurau dan suka ria menghiasi rumah Kobe tatkala kami sampai, semakin kurus saja kawan kami ini, sebaliknya isterinya justeru bertambah gemuk, pertanda sehabis melahirkan. Katika kami sampai, ibunda Kobe hendak berangkat ke surau, adik lelakinya sedang berada di rumah bagian belakang, adapun dengan adik bungsunya bekerja pada salah satu perusahaan asuransi di Kota Padang. Ditambah dengan mamaknya, maka lengkaplah isi rumah ini menjadi tiga orang, minus Kobe, sebab Kobe telah menggantungkan bajunya di rumah isterinya.

Dari Panorama kami berangkat bersama ke Guguak Randah, kami sampai di rumah isteri Kobe tepat ketika adzan Isya sedang menggema, hujan rinai masih menghiasi bahkan semakin lebat ketika kami hendak pulang nanti pada pukul sembilan kurang seperempat. Anaknya lelaki, baru tiga bulan umurnya, ketika kami sampai sedang dipanguku bundanya “Mahal tangisnya..” kata ibundanya kepada kami.

“Syukurlah, tak digaduhnya awak..” jawab Magex. Dasar orang rantau, mana boleh bercakap demikian. Yang namanya anak kecil pasti menggaduh akan tetapi bukan menggaduh menyusahkan melainkan menyenangkan, hanya orang tua sekarang yang menganggap anaknya menggaduh kehidupannya. Kami justeru cemas dengan keadaan anak kawan kami yang mahal tangisnya itu, adakah ia baik?

Cukup lama kami maota-ota dengan Kobe (tepatnya hanya Kobe dan Magex, mereka mempergunjingkan Tageh dan Kemeng) akhirnya kami putuskan untuk undur diri, malam telah larut dan Kobe hendak ada keperluah pula. Kami kembali ke Panorama karena onda Magex ditumpangkan di rumah orang tua Kobe.

Malam itu dengan diiringi hujan kami berjalan pulang dengan diiringi oleh Magex dengan ondanya dari belakang. Dia takut kalau dibiarkan dahulu, maklum Orang Jakarta, takut dengan tempat yang gelap, lengang, dan sepi tidak seperti Jakarta yang selalu terang, padat, dan ramai..

*Catur Wulan, pada masa sekarang 1 pendidikan dibagi kepada dua semester yang terdiri atas enam bulan satu semesternya. Adapun pada masa kami bersekolah dibagi kepada 3 Catur Wulan yang satu catur wulan ditempuh selama empat bulan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s