Tukang Pangkeh Nomor Wahid

Ilustrasi Gambar: Internet
Ilustrasi Gambar: Internet

Tukang Potong Rambut atau Tukang Pangkas atau Barber Shop atau orang kampung kami memanggilnya dengan panggilan Tukang Rageh ialah amat susah mencarinya, mencari yang sesuai dengan hati. Telah banyak pengalaman kami dengan Tukang Rageh, yang terpahit ialah pengalaman yang serupa dengan yang dialami oleh kawan kami.

Dahulu kami memotong rambut ialah kepada yang terasa saja, nampak pada suatu tempat maka kami pergi kesana. Namun semenjak beberapa kali ini kami berkenan kepada salah seorang tukang pangkeh di kampung kami. Sebenarnya tiada suka betul karena potongan rambut yang dihasilkan tiada sesuai dengan hati namun isteri kami membesarkan hati kami “Memang demikian potongan rambut orang sekarang tuan..”

“Awak tiada suka dengan potongan rambut yang dimode-modekan, remaja ababil yang demikian itu” jawab kami, ababil ialah remaja labil.

Namun isteri kami mencoba menghibur “Gagah tuan dengan potongan rambut serupa itu..”

Maka sudah dua kali kami pergi ke tukang pangkeh tersebut, pasrah dengan potongan rambut yang terlalu tipis pada bagian bawah. Hendak apa lagi, semua tukang pangkeh berkelakuan serupa namun bedanya pada tukang pangkeh yang sekarang ialah dia ramah, hendak mengikuti mau kami, murah, serta mendapat hadiah urut ala tukang pangkeh.

Namun ketika kami datang pada beberapa waktu yang lalu, bukan si engku yang biasa yang ada di kedainya. Kalau kami perhatikan, ayahnya mungkin.

Lain orang lain pula caranya, si ayah ini tiada menggunakan mesin pemotog rambut melainkan hanya gunting saja. Mungkin karena sudah tua dan tiada terbiasa dengan mesin. Tapi tak apa, kami pasrah saja.

Memang terasa bedanya, pertama, janggut kami dipotong lebih menarik. Yang kedua ialah kami mendapat bonus urutan yang jauh lebih mantap. Pertama kepala kami yang diurut ketika masih terbaring sehabis dicukur, dipotong, dan dirapikan janggut kami. Kemudian setelah itu sandaran kursi ditegakkan dan kembali kepala kami diurut. Selepas itu bahu dan kuduk (tengkuk) kamipun diurut agak beberapa lama. Yang Ketiga ialah selain diberi minyak, rambut kami kemudian dikeringkan dengan pengering rambut (hair dryer) sambil menyisir rambut kami dengan sisir bundar sambil meggulung-gulung rambuat kami. Alamak, sudah serupa di salon pula kiranya..

Kami kira kami akan dikenakan biaya tambahan atas pelayanan yang menurut kami sangat memuaskan ini. Namun tidak, kami dikenakan biaya masih sama dengan biaya biasa Rp.10.000,-

Sungguh nikmat memang tinggal di kampung ini, uang begitu berharga. Berlainan dengan tinggal di kota, cepat dapat uang, cepat pula habisnya.

Bertambah hendaknya rezki si engku ini..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s