Catatan dari Bali (Bag.19)

Pulang

Dua kali terdampar di bandara, tiada susah ataupun kesal terasa. Sedih karena waktu cepat berlalu, tak terasa sudah empat hari semenjak mula tiba. Selamat tinggal Bali..

Sampai di Bandara
Sampai di Bandara

Akhirnya kami sampai juga di Bandara I Gusti Ngurah Ray, tujuan berikutnya ialah Bandara Soekarno Hatta di Cengkareng Propinsi Banten dan terakhir ialah Bandara Minangkabau. Kami tiba di Bandara Ngurah Rai pada pukul setengah satu lewat tujuh menit, tiada kami mengerjakan Shalat Jum’at, melainkan mengerjakan Shalat Zuhur, lagi-lagi musafir kena burukkan,[1] seburuk itukah musafir?.

Rangkayo baik hati yang mengingati kami
Rangkayo baik hati yang mengingati kami

Bandara ini bersih dan luas, dan setidaknya pengalaman kami, salah seorang tukang bersih-bersihnya ramah kepada kami “Pakai gerobak (troli) saja engku, berat kalau dibawa begitu..” ujar salah seorang yang entah encik atau rangkayo kepada kami.

Lapang, bersih, tenang dan nyaman
Lapang, bersih, tenang dan nyaman

Kami tersenyum senang “Tiada mengapa rangkayo, dibawa saja..” jawab kami.

Lazimnya adat di bandara maka langkah pertama ialah cek in dan memasukkan barang ke dalam bagasi. Karena kami berombongan maka hanya tiga orang saja yang mengurus koper kami, selebihnya duduk-duduk saja menanti bagasi selesai diurus oleh Engku Jalil. Tujuannya ialah agar jangan terlalu ramai sehingga petugas dan pengunjung bandara tiada ergaduh.

Terdampar, salah satu kelompok kawan-kawan
Terdampar, salah satu kelompok kawan-kawan

Lama juga kami menanti, ada yang duduk-duduk bercakap-cakap berkelompok, ada yang bergurau, dan lain-lain. Keadaan disini cukup kami nikmati walau kawan-kawan yang lain terlihat segan karena terlalu lama menanti. Sebagian besar kawan-kawan duduk melepak di lantai bandara yang bersih nan mengkilap. Adapun kami masih menyempatkan diri mengabadikan keadaan nan sekali ini kami alami bersama kawan-kawan ini.

Terdampar, kelompok kawan-kawan yang lain lagi
Terdampar, kelompok kawan-kawan yang lain lagi

Akhirnya selesai jua, kami kemudian digiring bersama-sama ke ruang tunggu bandara. Sebelum masuk ruang tunggu tentulah mesti membayar boarding pass dahulu. Engku Jalil dan Engku Nyoman menguruskannya untuk kami, kami hanya menanti saja berkelompok sampai nama kami dipanggil satu-satu oleh Engku Jalil. Dasar orang Minang tiada pandai tertib, kawan-kawan beramai-ramai berdiri dihadapan tempat orang antri tak jauh dari meja pembelian. Akibatnya penumpang yang hendak membeli boarding pass menjadi tergaduh. Ada yang segan menyibak gerombolan sehingga mereka berdiri menanti di belakang rombongan, sampai akhirnya Engku Jalil berseru memintaagar gerombolan ini menyibakkan diri, dan itupun masih ada jua yang segan, Masya Allah, malu awak.

Terdampat, kelompok berikutnya
Terdampat, kelompok berikutnya

Sungguh kagum kami dengan keadaan bandara di Bali ini, begitu lepas dari pemeriksaan menuju ruang tunggu, kami telah dijamu oleh berbagai kedai dan dagangan. Serupa kita kiranya dengan masuk ke dalam salah satu pusat perbelanjaan. Hebat mereka, kedai tidak ramai di luar, justeru di dalam. Bersih dan lapang, patut kiranya Bali kan dikunjungi oleh pelancong-pelancong dari luar negeri. Menurut kami Bandara Soekarno Hatta kalah jauh dari Bandara I Gusti Ngurah Rai.

Ada yang tidur-tiduran di lantai, kan bersih lantainya
Ada yang tidur-tiduran di lantai, kan bersih lantainya

Ruang tunggu bandara menghadap keaarah landasan pacu dan tempat parkir pesawat sehingga kita dengan leluasa dapat melihat berbagai pesawat yang tengah parker. Adapun di belakangnya terdapat berbagai kedai makanan dan penjual oleh-oleh. Ruang tunggu ini sangatlah lapang, luas, dan ramainya. Juga terdapat satu mushalla di sini, terimakasih Bali.

Adapula yang berpose
Adapula yang berpose

Karena bandara ini nyaman maka cukup lama kami tertahan disini, sempat pula berpindah tempat penantian. Berbagai macam perangai kawan-kawan ketika menanti, ada yang duduk-duduk sambil bercakap-cakap dan bergurau, ada yang hilir mudik mencari kamar kecil, dan lain sebagainya.

Pukul setengah empat kami berangkat dari Bali menuju Jakarta, selamat tinggal Bali.

Begitu lepas dari pemeriksaan menuju ruang tunggu
Begitu lepas dari pemeriksaan menuju ruang tunggu

Kami tiba di Bandara Jakarta sekitar pukul lima petang hari, setelah mendapat tiket kembali kami masuk ke ruang tunggu, Engku Jalil mohon izin karena hendak balik demikian pula dengan tiga orang kawan kami yang kira hendak mengunjungi anak dan saudara mereka di Jakarta. Engku Jalil kembali meminta kami untuk megarahkan kawan-kawan ke bus setibanya di Padang, diberinya kami nomor hape sopir bus tersebut. Kami terkejut karena Engku Jalil masih percaya kepada kami, terima kasih Engku Jalil.

Pemandangan di hadapan ruang tunggu
Pemandangan di hadapan ruang tunggu

Setelah masuk ke ruang tunggu, beberapa dari kami yang membawa bungkus nasi memutuskan untuk melahap santapan yang tertunda beberapa jam demikian pula dengan kami. Kami bersama induk semang kami memutuskan untuk berjalan agak keluar, karena di dalam ruang tunggu terlalu ramai dan sesak. Beberapa orang kawan menyantap hidangan di lorong yang menghubungkan ruang tunggu.

Mushalla di ruang tunggu Bandara I Gusti Ngurah Rai
Mushalla di ruang tunggu Bandara I Gusti Ngurah Rai

Kami memutuskan untuk menjamak Shalat Magrib dengan Isya setibanya di Padang. Benar saja, tak lama setelah selesai makan, kami  mendengar panggilan untuk pesawat kami menuju Padang, setengah delapan kalau kami tiada salah. Ketika itu angina sedang bertiup kencang dan di kaca pesawat kami dapat rintik hujan telah membasahi.

Ruang tunggukah atau Mall?
Ruang tunggukah atau Mall?

Di atas pesawat berkat seorang kawan yang memaksa untuk meminjam buku kepada kami maka kami habiskan perjalanan dari Jakarta ke Padang ini dengan membaca buku. Di atas pesawat seorang bayi tiada hentinya menangis, kasihan kami, pastilah tersiksa ia. Perlahan-lahan rupanya siksaan yang sama juga menghampiri kami, mula-mula kuping kami tersumbat kemudian rasa tertekan mulai muncul, akhirnya sakit bukan kepalang. Begitu turun dari pesawat di Padang, rasa sakit dan tertekan hilang namun rasa tersumbat di kuping kami tiada hilang hingga keesokan harinya.

Menanti hendak diperkenankan naik pesawat
Menanti hendak diperkenankan naik pesawat

Kaji lama kembali terulang di Padang, pusing mencari koper kawan, dasar. Sebelumnya beberapa orang anggota rombongan telah nyinyir kepada kami agar menelpon sopir bus. Dengan terpaksa kami telpon ketika pesawat hendak lepas landas. Kami harap jangan ada yang meniru.

Berpose dahulu
Berpose dahulu

Pukul sepuluh kurang kami keluar dari bandara, kami antarkan kawan-kawan ke bus yang telah siap semenjak kami masih di Jakarta. Begitu turun dari pesawat sopir bus telah kami telpon mengabari kami telah sampai. Begitu kawan-kawan pergi maka kamipun berangkat.

Membidik
Membidik

Kami telah dinanti oleh isteri dan sumando[2] kami, pukul sepuluh seperempat kami sampai di rumah mertua kami di Simpang Kalumpang. Alhamdulillah perjalanan kami berakhir selamat dari awal hingga akhir.

Di atas bus dari pesawat menuju bandara di Soetta
Di atas bus dari pesawat menuju bandara di Soetta

 

Di bandara Jakarta
Di bandara Jakarta

 

 

[1] Kambing Hitam

[2] Saudara lelaki isteri

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s