Catatan dari Bali (Bag.18)

Graha Wisnu Kencana

Setiap orang ingin meninggalkan peninggalan yang megah sebagai pertanda dan untuk dikenang oleh anak cucu serta orang dimasa mendatang. Tidak hanya seorang, sekelompok orang, atau bahkan suatu bangsa. Tengok saja peninggalan-peninggalan megah dari masa yang entah kapan. Sebagai pertanda bahwa mereka memiliki peradaban yang tinggi.

Patung Erlangga sedang Menunggangi Garuda
Patung Erlangga sedang Menunggangi Garuda

Bus terus berjalan meninggalkan jejak yang tiada kelihatan pada aspal menjauhi hotel tempat kami menginap selama tiga malam ini. Segala barang telah dibawa ke dalam bus, kami tiada lagi akan kembali ke hotel.

Seperti biasa, setelah melalui jalan by pass Gusti Ngurah Rai kami kembali memasuki jalan kecil. Walau kecil tiada macet, tiada begitu ramai, hanya acap kali berselisih dengan kendaraan. Jalan yang kami lalui rupanya memasuki kawasan kampus Universitas Udayana yang merupakan universitas terkenal di Bali. Sungguh aneh karena jalanan umum berada di dalam kawasan kampus.

Lepas dari pembelian tiket
Lepas dari pembelian tiket

Tujuan kami ialah Bukit Jimbaran dimana di bukit ini terletak Kawasan Garuda Wisnu Kencana yang luasnya mencapai 50 Ha. Menurut Engku Wayan yang hari ini mengambil alih tugas engku Nyoman di bus kami[1] adapun bus A dikawal oleh Engku Jalil, kawasan Bukit Jimbaran ini pada masa dahulunya merupakan kawasan yang tiada menarik. Kawasannya kering, tiada air disini, kalau hendak mendapatkan air maka ditampung dari air hujan, apabila tiada maka jarang mandi penduduk disini dibuatnya, kalaupun hendak mandi jua maka terpaksa mereka pergi ke laut, mandi dengan air laut. Akibatnya, tanah disini tiada berharga.

Lapang, luas, dan teduh
Lapang, luas, dan teduh

Keadaan baru berubah pada tahun 1991 ketika pariwisata mulai digalakkan sehingga untuk menunjak hal tersebut maka dibuatlah saluran air PDAM ke bukit ini. Akhirnya air bukan lagi menjadi suatu yang sulit.

Akhirnya kami sampai, Garuda Wisnu Kencana atau biasa diseingkat GWK, sungguh luas kawasan ini, dari pintu masuk kami masih harus melalui jalan berliku “Kawasan ini dibuat dengan membeda bukit..” terang engku wayan “Arsiteknya ialah Ir. I Nyoman Warte tamatan ITB Bandung dan melanjutkan kuliahnya ke Amerika. Sekarang dia tinggal di Bandung karena beristerikan orang sana..” lanjutnya.

Lorong yang dibuat dengan membelah bukit
Lorong yang dibuat dengan membelah bukit

Sungguh rancak, dirancang oleh anak negeri sendiri rupanya kawasan megah ini. Ada beberapa gedung kami lalui sebelum sampai ke tujuan. Masih tampak oleh kami para pekerja sibuk bekerja, salah satu tebing bukit tengah diukir oleh para pekerja, sungguh menakjubkan. Kenapa orang Minang tiada dapat melakukan hal serupa? Padahal banyak orang Minang yang santing-santing.[2]

Plaza Garuda
Plaza Garuda

Kawasan ini sangat luas dan terdiri atas beberapa bangunan, dan layaknya Bali, maka di tempat ini banyak ditemui patung-patung. Kami mendapati jejeran patung-patung dari Legenda Ramayan di pintu masuk. Kemudian ketika kami masuk, kami dapati beberapa ukiran pada dinding yang mengisahkan perjalanan dari garuda.

Plaza Garuda, diambil dari muka patung garuda
Plaza Garuda, diambil dari muka patung garuda

Pada bagian dalam kami dapati sebuah arena serupa lapangan terbuka atau Medan nan Bapaneh menurut orang Minang atau Alun-alun kata orang Jawa. Lapang dan diapit oleh tebing-tebing yang telah dirajah. Tampaknya lapangan ini dahulunya ialah sebuah bukit yang kemudian dirajah pada bagian tengahnya sehingga menyisakan bagian tepi kiri dan kanan saja. Dan pada pucuknya terdapat patung Garuda, kendaraan Dewa Wisnu. Tempat nan luas dan megah ini dinamai dengan Plaza Garuda, perlambang dari kesetiaan kepada penguasa.

Ada Mushallanya
Ada Mushallanya

Adapun Patung Dewa Wisnu hanya berupa Patung Sedada saja dimana tangannya sedang dalam tahap pengerjaan, terletak di atas sebuah tebing pada bagian sebelah kiri dari lapangan ini. Tampaknya patung Wisnu inilah yang menjadi hidangan utama, ramai orang mengambil gambar disini. Tempat ini dinamai dengan Plaza Wisnu, lambang dari  kesuburan. Tampaknya ini tempat tertinggi dan dari sini kita dapat memandangi jauh sampai kebatas daratan dengan lautan, terkenang kami dengan kampus kami di Limau Manis. Dari muka gedung rektorat dan sekitarnya kita dapat memandangi Padang hingga ke batas pantai, sungguh mengagumkan, kita telah punya namun berbeda pengelolaannya.

Plaza Garuda, diujung sana ialah Patung Garuda
Plaza Garuda, diujung sana ialah Patung Garuda

Kemudian kami menuruni jenjang turun ke Plaza Kura-kura nan rindang, dipenuhi dengan pepohonan. Terdapat kolam air jernih yang menambah keteduhan tempat ini. Kura-kura perlambang dari penjaga dari goncangan. Di sini terdapat sebuah tempat dimana para pengunjung dapat berfoto pada sebuah gambar penari bali dimana pada bagian muka dilubangi sehingga kepala pengunjung dapat masuk. Kami coba, selepas itu kepala kami tersangkut, rupanya lubangnya terlalu kecil.

PLaza Wisnu
PLaza Wisnu

Akhirnya jenjang membawa kami kepada food court sekaligus jalan keluar. Di dekat sini juga terdapat amphitheater yang dapat dipergunakan untuk pertunjukan. Sungguh segala fasilitas dipertimbangkan untuk kebutuhan masa datang.

Patung Wisnu
Patung Wisnu

Layaknya kawasan pelancongan di Bali maka jalan keluar sengaja dibedakan dengan jalan masuk. Dimana pada jalan keluar terdapat kedai penjual oleh-oleh. Lagi-lagi banyak yang tergoda, termasuk kami.

Plaza Kura-kura
Plaza Kura-kura

Sunggu sayang kami kena tipu, kain yang dikatakan songket oleh penjualnya rupanya hanya batik. Dari dua jenis kain yang kami beli hanya satu yang songket. Kesalahan kami jua, tiada diperiksa, dibeli saja.

Kolam Di Taman Plaza Kura-kura
Kolam Di Taman Plaza Kura-kura

Pukul 11.10 kami berangkat dari Garuda Wisnu Kencana, bus melaju menuju Rumah Makan Padang Simpang Raya. Di GWK kami sempat bertanya perihal Shalat Jum’at kepada Engku Jalil, beliau kata agaknya kita menunaikan Shalat Zuhur saja mengingat susahnya mencari masjid, tempat parkir, dan lalu lintas Denpasar yang sibuk.

Amphitheater, Bukit Tinggi Mesti Punya Pula
Amphitheater, Bukit Tinggi Mesti Punya Pula

Pukul setengah dua belas lewat sepuluh kami sampai, Rumah Makan Simpang Raya agaknya baru buka perdana hari ini, masih banyak karangan bunga di muka rumah makan yang menyelamati pembukaannya. Bangunan rumah makan inipun tidak seluruhnya selesai. Bangunan bagian belakang masih dalam tahap pengerjaan. Cukup terbayar kerinduan kami akan masakan kampung walau rasanya tidak dapat dibandingkan dengan masakan di negeri asal.

Amphitheater bagian dalam
Amphitheater bagian dalam

Menurut engku Jalil rumah makan ini merupakan cabang dari Rumah Makan Simpang Raya di Jakarta. Begitu rupanya, kami kira rumah makan ini cabang dari rumah makan dengan nama sama yang ada di Bukit Tinggi.

Restoran mewah, tiada menyangka kami kalau jalan keluar lewat sini
Restoran mewah, tiada menyangka kami kalau jalan keluar lewat sini

Sebelum berangkat, beberapa orang membeli nasi bungkus di rumah makan ini, termasuk kami, sebagai bekal di Bandara Soekarno Hatta nanti.

[1] Engku Nyoman kembali ke Museum Gunung Batur guna mengambil berkas yang tertinggal.

[2] Pintar-pintar

Tambahan Gambar:

Patung Garuda di Plaza Garuda
Patung Garuda di Plaza Garuda

Pantai, diambil dari tempat parkir GWK
Pantai, diambil dari tempat parkir GWK
Bagian pada bukit yang masih dalam tahap pengerjaan
Bagian pada bukit yang masih dalam tahap pengerjaan

Relief Garuda
Relief Garuda

Hahahahaha...
Hahahahaha…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s