Catatan dari Bali (Bagian.16)

Kami tiada faham soal tari-tarian, tiada pula pandai menikmatinya. Kami hanyalah seorang yang buta seni dan mencoba untuk menghargai suatu karya seni.

Tari Baris yang dibawakan seorang kanak-kanak
Tari Baris yang dibawakan seorang kanak-kanak

Pukul setengah delapan malam kami telah sampai di hotel, dalam perjalanan kembali ke hotel dari Pantai Sanur, kami telah mendapat pemberitahuan dari engku Nyoman kalau pada malam terakhir kami di Bali ini akan disuguhkan pertunjukan tari-tarian khas Bali di restoran hotel. Engku Jalil telah memboking restoran untuk rombongan kami. Dan untuk itu kami diminta menyebutkan nomor bilik kami sebagai paswordnya.

Sebenarnya pada pagi harinya kami telah mendapat kabar tersebut dari engku Jalil sendiri. Alasan pemberian pasword tersebut karena dia tiada hendak kejadian yang menimpa rombongan pertama juga menimpa kami. Dimana ketika itu, di restoran terdapat beberapa orang bule yang juga ikut-ikutan menikmati pertunjukan tari tersebut, padahal tempat sudah diboking.

Selepas mandi kami turun ke restoran untuk makan malam, rupanya kami bukanlah yang pertama, beberapa orang kawan telah lebih dahulu datang. Dan tampaknya rencana tidak berjalan sesuai dengan kehendak engku Jalil, ketika kami datang, dua pasang bule telah duduk manis di restoran, menanti pertunjukan. Mungkin karena engku Jalil tiada mengawasi sendiri jalannya acara, pagi ini engku Jalil ke Jakarta, mungkin pesawatnya terlambat.

Tari Cenderawasih
Tari Cenderawasih

Terdapat lima jenis tari-tarian yang dibawakan oleh para penari yang sebagian besar masih kanak-kanak atau remaja beranjak dewasa. Satu ciri khas dari tari-tarian Bali ini tampak oleh kami yakni mata para penari yang nyalang dan liar. Berikut urutan tari-tarian yang dipertunjukkan kepada kami:

Pertama, Tari Baris, tari ini melambangkan kepahlawanan di Bali ketika masa kolonial dahulu. Tari ini dibawakan oleh satu orang, yang menarik perhatian kami, si penari masihlah kanak-kanak. Terbit rasa iba di hati kami melihat dirinya, mudah-mudahan si kanak-kanak ini melakukannya dengan senang hati.

Tari Jaok
Tari Jaok

Kedua, Tari Cendrawasih. Tari ini dibawakan oleh dua orang gadis belia. Dalam kepercayaan Umat Hindu Bali, burung Cendrawasih dipercaya dapat membawa arwah orang yang sudah meninggal ke surga.

Ketiga, ialah Tari Jaok, dibawakan oleh seorang penari lelaki. Tari ini mengisahkan perihal seorang anak dari masa kerajaan Hindu di Tanah Jawa tepatnya di daerah Blambangan. Dia datang ke Bali guna mencari ayahnya. Si anak memiliki tabi’at buruk (penuh amarah), kerajaan yang ditinggalkannya di Blambangan hancur karena keangkaramurkaan.[1]

Kami dibuat tertawa oleh ulah penari Jaok ini karena sempat sang penari turun ke arah penonton dan kemudian mendekati salah seorang kawan kami. Mungkin maksudnya hendak menakuti, namun kawan kami ini malah mengarahkan kameranya kepada sang penari bertopeng ini.

Tari Oleg Temulilingan
Tari Oleg Temulilingan

Keempat ialah Tari Oleg Tamulilingan yang berasal dari kata dua yakni Oleg yang berarti liukan tubuh penari dan Tamulilingan yang berarti lebah. Tari ini mengisahkan sepasang lebah penghisap madu sedang memadu kasih. Hikmah yang diambil dari binatang lebah ini ialah keharmonisan.

Kelima yang merupakan yang terakhir ialah Tari Joget Bumbungan yang merupakan tarian kesenangan sehabis panen. Dalam tarian ini, para penari akan mendatangi penonton untuk diajak serta menari. Pada kesempatan ini dua orang kawan kami ikut menari, serta ikut pula seorang pelancong bule dan seorang lagi pelancong Afrika.[2]

Tari Joget Bumbungan
Tari Joget Bumbungan

Dipertangahan acara, beberapa orang kawan-kawan sudah mulai menghilang satu persatu, bahkan kaum ibu-ibu sudah tiada lagi menempati bangku mereka. Mungkin merasa kalah cantik dari para penari, entahlah..

Selepas acara menari selesai, kami diberi kesempatan untuk berfoto dengan para penari, banyak juga yang hendak berfoto, termasuk para pelancong asing tadi.

[1] Adapun versi lain menyebutkan bahwa tari ini melambangkan seorang raja yang sangat angkuh dan sombong seperti raksasa bermahkota raja.

[2] Seluruh keterangan mengenai tari-tarian ini kami dapatkan dari petugas hotel yang menjadi pembawa acaranya.

Salah seorang penari perempuan yang sedang meliukkan tubuhnya
Salah seorang penari perempuan yang sedang meliukkan tubuhnya
Gambar penari serupa ini sering kita temui
Gambar penari serupa ini sering kita temui

joget bumbungan_1

Penari Jaok sedang menakut-nakuti kawan kami
Penari Jaok sedang menakut-nakuti kawan kami

tari jaok_1

Berpose bersama para penari
Berpose bersama para penari

DSCF0856

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s