Catatan dari Bali (Bagian.15)

Pantai Padang tiada kalah, lebih malah. Hanya kalah pada pengelolaan saja.

Pantai Sanur
Pantai Sanur

Hari telah beranjak petang tatkala kami berangkat dari kedai oleh-oleh Dewata, tujuan terakhir perjalanan kami pada hari ini ialah Pantai Sanur yang digelari dengan Pantai Matahari Terbit. Berhubung kami datang pada petang hari maka tiada dapat kami menikmati keindahan terbitnya sang Bathara Surya.

Sanur nama pantai itu, terkenang kami akan sepenggal lirik sebuah lagu lama yang kami tiada tahu judul, penyanyi, apalagi pencipta lagunya:

Lempar sanuur, ada di Pulau Bali..

Tatkala kami sampai petang sudah hendak beranjak menjadi senja, namun para pelancong masih ramai memadati pantai ini. Suara ombak menderu-deru, hati kami semangat “Pastilah salah satu dari sekian pantai terindah di Bali..”

Baru sampai
Baru sampai

Kami takjub, sekali lagi, tempat parkir lapang tersedia. Para pedagang kaki lima berjejer di sepanjang jalan di sisi pantai, sebagian besar pedagang makanan dan minuman. Adapun dengan pedagang oleh-oleh terdapat pada bagian yang agak jauh dari pantai namun masih berada di jalur berjalan para pengunjung.

Tatakala sampai kami dapati sebuah pantai yang pada bibirnya langsung dipagari dengan batu-batu karang, beberapa orang sedang asyik mandi-mandi, kebanyakan dari mereka ialah orang dewasa. Sekelompok remaja – dimana yang perempuan memakai celana yang memperlihatkan paha – berjalan berselisih dengan kami, pakaian mereka basah kuyup.

Sekelompok remaja selepas mandi
Sekelompok remaja selepas mandi

Hampir sepanjang jalur pantai ini dibatasi dengan batu-batuan, tiada mendapat pasir kami, kecuali turun ke laut. Namun tiada seorangpun diantara kami yang hendak mandi-mandi disini. Mandi di laut dapat menyebabkan badan bergetah dan tiada nyaman.

Beberapa orang kawan-kawan memutuskan untuk berjalan ke ujung yang menjorok ke laut, sebagian lagi memutuskan untuk duduk-duduk saja menanti yang lain kembali, adapun sisanya memutuskan untuk berbelanja. Kami pada mulanya memutuskan untuk pergi menyusuri pantai hingga keujungnya namun di tengah jalan kami berubah fikiran, tiada yang menarik agaknya.

Salah seorang kawan berujar “Kenapa ke sini kita dibawanya, Pantai Padang jauh lebih indah lagi..”

Mungkin kami datang pada waktu yang salah, coba kalau kami datang pada pagi hari tatkala matahari mulai menampakkan diri, tentulah akan indah terasa.

Para pelancong lokal dan sampan bercadik nun di sana
Para pelancong lokal dan sampan bercadik nun di sana

Kami coba juga menyusuri jalan seorang diri, berjalan di bibir pantai – tepatnya di atas susunan batu yang telah diberi jalan untuk pejalan kaki – ramai orang datang ke pantai ini. Apakah itu bersama keluarga ataupun bersama kekasih, ada jua beberapa orang yang membawa tangkai pancing, hendak memancing mereka, serupa benar dengan Pantai Padang.

Namun ada jua bedanya, disini tiada sampah, pemalak, dan lain sebagainya. Juga kami dapati beberapa sampan bercadik sedang terapung-apung di dekat pantai. Sempat kami melihat salah satu sampan mendekat ke bibir pantai dan kemudian memuat barang dan beberapa orang menaikinya. Mereka bukannya pelaut, tampaknya pelancong lokal.

Tukang Papeh Para pemancing
Tukang Papeh Para pemancing

Kemudian mata kami tertumbuk kepada sepasang orang yang sedang terapung-apung pada papan selancar, entah sedang apa mereka. Dikatakan hendak berselancar, mana mungkin satu papan dipakai berdua?

Tak berapa lama kemudian kami putuskan untuk kembali ke bus, dan kaji lama terulang kembali, menanti kawan-kawan yang terjebak dengan godaan berbelanja. Karena salah seorang kawan tiada membawa hape maka terpaksalah dinanti hingga kembali. Kejadian ini berlaku di Bus A, sedangkan kami di Bus B. Ceritanya, kawan yang seorang ini keasyikan mencari Lapik[1], memanglah beliau ini seorang Pengusaha Penyewaan Lapik di Taman Panorama Bukit Tinggi.

Bus kami berangkat pukul tujuh kurang seperempat adapun Bus A berangkat pukul tujuh. Di tengah perjalanan kami mendapat cerita dari salah seorang rangkayo yang rupanya berbelanja selama di Pantai Sanur bahwa beliau mendapat harga murah untuk belanjaannya. Rupanya ada semacam kepercayaan (mitos) bagi pedagang Bali bahwa apabila seorang pembeli telah masuk ke kedai mereka namun tiada membeli apa-apa maka alamat dagangan mereka pada hari itu akan tiada laku, mereka akan sial. Oleh karena itu rangkayo kawan kami ini diminta dengan sangat untuk membawa (membeli) barang agak sebuah dari kedainya, walaupun itu dijualnya dengan harga modal.

Dua sejoli di atas papan selancar
Dua sejoli di atas papan selancar

Dan selepas itu, uang yang diberikan (dibayarkan) akan mereka pukul-pukulkan ke dagangan mereka.

Demikianlah keberuntungan rangkayo ini..

[1] Tikar

DSCF0796

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s