Catatan dari Bali (Bagian.7)

Selepas dari Tanah Lot, kami dibawa oleh para pemandu kami menuju tempat berbelanja oleh-oleh terlengkap di Pulau Dewata ini, sekaligus tempat kami menyantap makan malam. Krisna nama tempat itu, besar dan luas serta lengkap. Takkan cukup-cukup rasanya waktu yang diberikan untuk berbelanja disini.

Bagian muka ialah rumah makan, bagian belakang tempat berbelanja oleh-oleh
Bagian muka ialah rumah makan, bagian belakang tempat berbelanja oleh-oleh

Senja perlahan-lahan menjemput kami dalam perjalanan menuju tempat terakhir pada hari itu. Ketika sampai kami dapati telah ramai pula tempat itu dengan kendaraan yang parkir, namun orang Bali ialah orang yang berpanjang akal, telah diperkirakan pengunjung yang ramai maka tiada ada kendaraan yang tidak mendapatkan tempat untuk memarkir kendaraannya. Krisna nama kedai besar itu.

Pada halaman muka kami telah dinanti oleh beberapa orang pegawai perempuan yang memakai pakaian khas Bali, sungguh menawan mereka, mereka berseru kepada kami “Rombongan dari Bukit Tinggi.. pakai stiker dahulu..” sembari meminta kami untuk mendekat. Dan setelah mendekat segera mereka menempelkan stiker di baju masing-masing dari kami.

Tempat ini apabila dipandang dari luar terlihat biasa saja namun tempat ini justeru semakin luas apabila kita berjalan arah ke belakang. Pada bagian muka bangunan ini ialah tempat makan yang dibuat bertingkat pada bagian belakangnya dan pada bagian muka tempat makan ini terdapat panggung dimana para pelanggan diperkenankan untuk bernyanyi sesuka hatinya. Kalaupun tiada yang hendak menyanyi, fihak Krisna telah menyediakan seorang penyanyi untuk menghibur para pengunjung.

Ruang makan dimana panggung di sisi sebelah kanan dan lantai dua ada pada sisi sebelah kiri
Ruang makan dimana panggung di sisi sebelah kanan dan lantai dua ada pada sisi sebelah kiri

Pada bagian sisi sebelah kiri panggung terdapat tempat orang mengambil nasi. Sama dengan rumah makan lain yang telah kami kunjungi di tempat ini makanan dihidangkan dengan cara prasmanan. Bedanya ialah kami mendapat minuman Teh Es Lemon (Ice lemon tea).

Begitu masuk para pemandu kami bertanya “Engku-engku dan rangkayo sekalian, hendak makan dahulukah atau hendak berbelanja..?”

Kawan yang berjalan di muka kami berkata “Berbelanjalah kita baiknya dahulu engku..” Kami kesal sekali, padahal akan lebih bagus apabila kami makan dahulu, perut ini sudah minta diisi.

Sungguh tiada disangka, pertahanan kami sesampainya di ruang belakang roboh, betapa tidak, ruangan yang begitu luas dipenuhi oleh berbagai jenis barang yang dijual. Beragam baju, kaos ataupun kemeja, kain, selendang, celana, perhiasan serupa kalung, gelang, cincin, mainan kanak-kanak, berbagai hiasan, makanan, dan lain sebagainya.

Inilah semasa hidup kami, kami mengeluarkan uang dalam satu kali belanja yang angka nolnya mencapai enam buah, Masya Allah..

Kupon Krisna
Kupon Krisna

Baju, kain, gelang, mainan, dan makanan itulah yang kami beli. Entah apa yang merasuki kami sehingga kami tiada merasa bahwa barang yang kami beli begitu besar harganya. Apa hendak dikata, tak mungkin mengatakan “Maaf encik, tiada jadi kami belanja barang ini..” kepada encik-encik nan jelita yang berdiri di belakang meja kasir. Malulah..

Banyak barang yang menarik minat kami, namun tiada semua dapat kami beli. Cara membawa pulang juga patut untuk difikirkan, bisa-bisa rusak sebelum mencapai rumah.

Sungguh heran kami, kedai ini rupanya juga menjual Sajadah tempat shalat, ada pula tilakuang,[1] serta beberapa kaligrafi Islam. Esok baru kami tahu bahwa tidak hanya di Kedai Krisna ini saja orang menjual berbagai benda yang berhubungan dangan Islam, di kedai cinderamata lainnya serta kedai-kedai cinderamata yang terdapat pada salah satu objek wisata yang kami kunjungi juga ada yang menjual tilakuang.[2]

Selama berbelanja kami dibuat terkejut dengan keberadaan salah satu cinderamata yang menurut kami agak aneh dan tak lazim. Menurut kami memang demikian namun tidak demikian dengan yang membuat dan menjual kiranya. Dibiarkan tergelatak begitu saja di tempat yang mudah dilihat dan dijangkau oleh kanak-kanak sekalipun.[3] Kami yakin bahwa masyarakat Bali pastilah memiliki pendapat sendiri mengenai hal ini. Sebab tidak hanya kedai ini yang menjual, beberapa kedai cindera mata lainnya juga menjual benda-benda serupa ini. Bahkan ada yang dalam rupa gantungan kunci.

Berpose dulu sambil menanti kawan yang lelet
Berpose dulu sambil menanti kawan yang lelet

Ketika masih di dalam bus, pemandu kami telah memberi tahu bahwa Kedai Krisna selalu mengadakan undian setiap tahunnya terhadap para pelanggan yang berbelanja ke kedai mereka. Pada undian yang silam, pembeli dari Sumateralah yang mendapatkan hadiah utamanya.

Setelah kami sampai dan berbelanja, barulah kami tahu bahwa fihak kedai memberikan hadiah kupon untuk diundi kepada para pembeli. Kupon ini diberikan apabila pembeli berbelanja dalam kelipatan seratus ribu. Demikianlah kami mendapatkan sepuluh kupon untuk diundi, semoga saja.

Setelah puas berbelanja akhirnya kami makan malam, selesai makan malam barulah kemudian kami bergerak hendak pulang. Namun sayang, lagi-lagi kami mesti menanti kawan yang masih tetap saja berkeras hati melanjutkan belanja. Akhirnya pukul setengah sepuluh barulah kami sampai di hotel. Penat-penat badan ini rasanya..

[1] Mukena

[2] Salah seorang kawan kami kehilangan camera digitalnya ketika sedang asyik berbelanja tilakuang pada salah satu kedai di salah satu objek wisata.

[3] Cinderamata itu berupa alat kelamin laki-laki dengan berbagai ukuran.

Advertisements

One thought on “Catatan dari Bali (Bagian.7)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s