Catatan dari Bali (Bagian.4)

Terletak di daratan tinggi, dengan hawa sejuk, serta sesekali kabut embun turun menyapa kami. Hujan rinai terkadang turun menyambangi. Tak mengurangi keindahan Danau Bedugul yang ditepiannya terdapat tempat persemayaman Dewa Wisnu.

Berpose sebelum masuk ke objek wisata Danau Bedugul
Berpose sebelum masuk ke objek wisata Ulun Danu dan Danau Bedugul

Tujuan kami berikutnya ialah Bedugul yang telah mendapat pengakuan sebagai Warisan Dunia dari Unesco, dimana pada daerah ini terdapat sebuah danau dan Pura.[1] Namun sebelum sampai ke Bedugul kami singgah terlebih dahulu di sebuah rumah makan untuk menikmati makan tengah hari.

Bedugul terletak di dataran tinggi, perjalanan kami menuju Bedugul mengingatkan kami pada perjalan dari Padang ke Bukit Tinggi. Didukung oleh cuaca yang agak mendung perjalanan kami dikawani oleh kabut yang menambah pesona keindahan alam Bali. Di pertengahan perjalanan kami singgah dahulu untuk makan siang, rumah makan untuk makan siang. Kehalalan makanan di rumah makan ini telah dijamin oleh para pemandu kami.

Pura dalam kawasan Objek Wisata Bedugul
Salah satu Pura dalam kawasan Objek Wisata Bedugul. Terkenal karena terdapat pada uang kertas Rp.50.000,-

Rumah makan ini terletak di tepi sebuah tebing yang menyajikan keindahan pemandangan pegunungan. Letak yang demikian menyebabkan pemilik rumah makan ini membangun bangunan tambahan pada bagian bawah di sisi tebing. Hal ini menyebabkan setiap lantai menyuguhi pemandangan pegunungan kepada setiap pengunjung. Makanan disajikan dengan cara prasmanan di rumah makan ini, cukup panjang antrian untuk makan karena kami bukan satu-satunya rombongan yang mendatangi rumah makan ini.

Selesai makan kami segera bersiap melanjutkan perjalanan untuk melihat Danau Bedugul dan Pura Ulun Danu, tempat bersemayamnya Dewa Wisnu. Dalam perjalanan ke Bedugul, Engku Nyoman sang pemandu kami kembali bercerita bahwa di kawasan Bedugul ini terdapat komunitas Jawa yang telah lama tinggal di Bali. Diantara mereka ada yang bekerja sebagai pedagang hasil-hasil bumi, pedagang cindera mata, pedagang keliling untuk para pelancong dan lain sebagainya. Salah satu bukti perihal keberadaan komunitas Jawa ini ialah keberadaan sebuah masjid besar yang terletak di atas bukit yang menghadap ke Danau Bedugul, masjid itu bernama Masjid Besar Al Hidayah.

Danau Bedugul
Danau Bedugul

Pemandangan Danau Bedugul sungguh menarik dengan bangunan Pura Ulun Danu yang terletak di bibir danau menambah kemolekan pemandangan pada hari yang berawan. Komplek pura di tepi danau ini sesungguhnya cukup luas dan terdiri atas beberapa bangunan pura dengan dipagari dinding bata setinggi kurang lebih dua meter. Beberapa umat Hindu baik laki-laki maupun perempuan berselisih jalan dengan kami. Dengan pakaian khas Bali mereka ada yang baru datang dan ada pula yang hendak berangkat karena telah selesai melaksanakan ibadah mereka. Menurut Engku Wayan sang pemandu kami[2] imam agama mereka akan melayani umat Hindu yang hendak beribadah dari pagi hingga petang nanti. Demikianlah..

Taman di tepi danau dalam kawasan Objek Wisata
Taman di tepi danau dalam kawasan Objek Wisata

Sungguh menarik dan patut dijadikan pelajaran bagi pelaku pariwisata di Sumatera Barat dimana dalam penataan objek atau kawasan wisata, Bali sangat bagus. Mereka mempertimbangkan banyak hal seperti tempat parkir yang sangat luas disediakan untuk berbagai jenis kendaraan dengan mempertimbangkan pengunjung yang membludak. Kedua ialah pedagang cinderamata yang didominasi pedagang kaki lima yang mereka sediakan tempat khusus. Dimana jalur masuk dan jalur keluar dipisah, para pedagang diletakkan di jalur keluar dengan alur yang “memaksa” para pelancong untuk melalui setiap kedai para pedagang.

Pura pada bagian dalam komplek Objek Wisata. Terdapat beberapa pura dalam komplek ini
Pura pada bagian dalam komplek Objek Wisata. Terdapat beberapa pura dalam komplek ini

Ketiga ialah kebersihan, seluruh objek wisata di Bali bersih dari sampah, preman, pengamen, dan berbagai gangguan lain yang membuat pelancong tidak nyaman. Keempat yang merupakan yang terpenting ialah keindahan dimana wisata alam yang disajikan tidak melulu menjual kemolekan alam yang menggoda mata para pelancong melainkan mereka menambahi dengan membuat taman yang indah dan menarik dimana para pelancong dapat pula bersantai dan berleha-leha. Bukankah demikian tujuan para pelancong? Untuk bersantai, berleha-leha, memanjakan badan serta fikiran?

Bermain wisata air di Danau Bedugul
Bermain wisata air di Danau Bedugul

Kawasan wisata Bedegul juga menawarkan beberapa fasilitas seperti penyewaan kapal untuk berkeliling danau atau sampan kayuh untuk dipergunakan sekadar bermain ditepian. Sungguh melayang angan-angan kami kalau seandainya Kawasan Danau Maninjau, Danau Singkarak, serta Danau Di Ateh Danau Di Bawah dibuat pula serupa ini pengelolaannya, tentulah akan ramai orang berkunjung untuk melancong.

Masjid Besar Al HIdayah
Masjid Besar Al HIdayah

Kami asyik sendiri berjalan-jalan mengambil gambar di Bedugul, kesal hati ini kalau kawan yang diiringi sebab mereka semua lebih asyik berfoto-foto pada setiap tempat dan tidak begitu menikmati keindahan pemandangan alam yang menakjubkan. Berfoto di objek wisata dengan latar menakjubkan dan kemudian untuk diperlihatkan kepada keluarga, kenalan, dan handai taulan. Karena keterbatasan waktu, kami tiada dapat melihat keseluruhan keindahan kawasan objek wisata Bedugul.[3] Kami lebih memilih untuk mencari masjid yang terletak di atas sebuah bukit guna menunaikan kewajiban yang tertunda.

danauMasjid Besar Al Hidayah terletak di atas bukit, selesai mengerjakan shalat kami segera menuju ke halaman muka masjid yang langsung menghadap ke Danau Bedugul. Beberapa orang remaja sedang asyik duduk-duduk sambil bercakap-cakap pada sebuah gazebo yang terletak di hadapan masjid tersebut. Sedangkan gazebo yang satu lagi ditempati oleh dua orang lelaki dewasa yang sedang merokok sambil menikmati pemandangan alam dari atas bukit ini.

Pura
Pura

Sungguh sayang hujan gerimis yang semakin lama semakin rapat mulai turun, kami paksakan diri untuk melihat pemandangan menakjubkan yang disajikan dari atas bukit ini dan kemudian mengambil beberapa buah gambar. Selepas itu kami segera bergegas kembali ke tempat parkir bus, benar saja, ternyata kami tengah dinanti oleh rombongan bus kami, adapun dengan Bus A telah lebih dahulu melaju ke Tanah Lot.

Tepian Danau
Tepian Danau

Kami yakin pastilah kawan-kawan kesal sekali menanti kedatangan kami yang lama. Beberapa diantara mereka telah menunaikan shalat di mushallah di rumah  makan yang tadi kami datangi. Beberapa orang yang lain agaknya telah lupa dengan kewajiban.

“Maaf engku, menanti dibuatnya..” seru kami ketika naik bus.

“Tiada mengapa engku..” jawab engku nyoman.

Sampan-sampan yang disewakan
Sampan-sampan yang disewakan

Salah seorang kawan menegur kami dengan gurauan “Ah.. panjang agaknya do’a yang engku panjatkan..”

Kami hanya tersenyum saja, dan bus pun berlalu dengan dikawani kabut yang mulai turun menyelimuti dataran tinggi Bedugul.

[1] Tempat bersembahyang umat Hindu.

[2] Kami memiliki dua orang pemandu, Engku Wayan di Bus A dan Engku Nyoman di Bus B, kami berada di bus B.

[3] Salaah satunya ialah kawasan taman yang luas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s