Kanak-kanak pengumpul barang bekas

Kanak-kanak pengumpul barang bekas
Kanak-kanak pengumpul barang bekas

Lapangan Sepak Bola di Kampus Universitas Negeri Padang (UNP) memanglah tempat yang cocok untuk berehat. Setidaknya pendapat demikian bukan saja pendapat kami saja, banyak orang yang berpendapat serupa agaknya. Apakah itu mahasiswa, pegawai, masyarakat lainnya.

Petang hari ini kami habiskan waktu dalam menanti isteri yang sedang berkuliah, duduk-duduk di tepi lapangan menonton anak mahasiswa bermain sepak bola, sambil membaca buku. Tidak hanya kami, beberapa orang mahasiswa duduk berkelompok, berpasangan, atau sekadar berduaan. Ada pula dua orang pegawai yang duduk-duduk di tepi lapangan sambil bercakap-cakap. Isteri kami bergurau kepada kami “Tengoklah tuan, engku berdua itu sedang pc-pc[1]..” dengan tersenyum malu-malu.

Dasar isteri kami, pada hal kedua kedua engku tersebut bisa saja dua orang kawan karib yang sedang bertukar fikiran atau saling menumpahkan isi hati perihal permasalaha hidup yang mereka hadapi. Atau dapat saja sedang merundingkan satu atau beberapa hal.

Tak lama selepas berkuliah, isteri kami bergabung dengan kami, roti isi yang telah kami beli tadi telah dengan setia menantinya sedari tadi, jatah kami telah kami habiskan sedari tadi karena perut ini sudah menuntut untuk diisi. Dari isteri kami, kami mendapat hadiah satu gigitan roti isi.

Tatkala sedang asyik memandang ke tengah lapangan, menonton mahasiswa yang sedang bermain sepak bola, tiba-tiba mata kami tertumbuk pada satu sosok yang sedang berjalan di tepi lapangan sepak bola. Seorang kanak-kanak yang sedang berjalan sembari membawa dua bungkus asoi[2] besar bewarna biru muda dan warna merah yang telah memudar. Kami yakin isi kedua kantong itu ialah sampah plastik yang dapat dijual ke toke barang bekas.

Memandang dirinya membuat kami tercenung, serasa naik mesin waktu melihat kanak-kanak yang menurut perkiraan kami baru berumur setidaknya 9 – 10 tahun. Memakai topi lusuh, baju kemeja lengan pendek dan celana pendek yang telah pudar warnanya. Pakaian serupa ini mengingatkan kami akan pakaian kanak-kanak yang lazim dipakai pada tahun 1990-an dahulu, ketika kami masih kanak-kanak. Serupa dengan filem-filem yang diproduksi tahun 1990-an.

Sedih hati kami memandangnya, diusia semuda itu pada petang hari kawan-kawan siumuran dirinya tengah asyik bermain dan tertawa gelak-gelak sedang dirinya mesti membanting tulang guna mencukupi kebutuhan diri dan keluarga. Malu kepada diri sendiri agaknya..

“Cemas dinda tuan, apakah dia masih sekolah atau tidak. Sungguh sangat sedih sekali kalau dia tiada bersekolah. Bukankah sekarang sedang musim ujian..” kesah isteri kami tatkala dalam perjalan pulang menuju rumah dari turun angkot.

Benar agaknya, kami hanya dapat berharap yang terbaiklah untuk kanak-kanak itu serta berdo’a semoha dilapangkan jalannya, dimudahkan rezkinya, diberi hidayah, dan dicapaikan segala cita-citanya yang baik oleh Allah Ta’ala Tuhan Seru Sekalian Alam, Amin..

[1] Pacaran

[2] Kantong plastik

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s