Kejadian di Atas Bus

Ilustrasi Gambar; Internet
Ilustrasi Gambar; Internet

Bus melaju dari Bukit Tinggi menuju Padang pada suatu hari yang terik, sopir bus memutar lagu Minang yang entah siapa penyanyinya, dapat kami pastikan bahwa penyanyinya ialah seorang perempuan nan elok parasnya, seperti kebanyakan penyanyi Minang sekarang. Kami tiada tahu entah lagu apa yang diputar, namun kami yakin lagu tersebut merupakan lagu lama yang dilantunkan kembali oleh si penyanyi. Syukur selepas Lembah Anai lantunan musik dari speaker di dalam bus berhenti, dan kamipun dapat melanjutkan kembali tidur yang tadi sempat terhenti.

Kesenyapan di dalam bus tidak bertahan lama, karena setibanya di Lubuak Aluang, naik dua orang guru perempuan, mereka hendak pulang ke Padang. Di dalam bus mereka asyik berbicara berdua walaupun duduk mereka tidak sebangku, guru yang seorang duduk di bangku paling belakang guru yang lainnya duduk di hadapannya di bangku serap.

Pembicaraan mereka ialah seputar permasalahan yang mereka hadapi di sekolah tempat mereka mengajar, kami tiada menyimak walau suara mereka berdua cukup nyaring terdengar. Yang teringat oleh kami ada masalah dengan wakil kepala sekolah dan para guru yang lainnya. Jadilah mereka saling menumpahkan kekesalan di dalam bus, saling berbagi angan-angan perihal pekerjaan, serta keluh-kesah lainnya.

Begitu sampai di perlintasan kereta api selepas Pasar Usang naiklah seorang pengamen, masih muda mungkin sekitar dua puluhan umurnya. Setelah menyapa para penumpang dengan basa-basi  maka mulailah dia melantunkan dua buah lagu. Kami terkejut mendengar engku pengamen ini bernyanyi, suaranya datar saja, kalau boleh kami ibaratkan pada sebuah kurva, maka kurvanya lurus 90 ataw 180 derajat tiada bergelombang naik turun, demikianlah kisah suara engku pengamen.

Mulanya kami susah menerka lagu apa gerangan yang dilantunkan oleh engku pengamen ini. Namun perlahan-lahan kamipun berhasil mengetahuinya, “Munkinkah..” yang dibawakan oleh Grup band Stinky. Kalaulah Engku Andre Taulany mendengarnya, pastilah ia tertawa terbahak-bahak, demikian pula dengan kami, payah kami menahan tawa agar jangan sampai terlepas. Ketika engku pengamen ini bernyanyi, kedua guru perempuan di belakang berhenti bercaka-cakap, pernah jua dicoba untuk bercakap-cakap namun segera mereka sudahi, kalau nyaring mereka.

Lagu yang kedua ialah lagu lawas yang kami lupa judulnya, namun lantunan lagu ke dua ini tak lama, si engku pengamen segera turun di bawah jambatan layang di Simpang Duku.

Kami kagum dengan engku pengamen ini, dengan keterbatasan suaranya tersebut dia masih berusaha mencari rezki yang halal, kami ikut pula memberi upah, tidak hanya kami, banyak pula penumpang yang memberi engku pengamen ini upah. Pastilah mereka salut dan kagum pula dengan kegigihan dan ketekunan engku pengamen ini. Maju terus engku dalam mencari rezki yang halal..

Selepas engku pengamen ini turun maka kicauan dari kedua guru di belakang kembali terdengar. Sungguh kami heran, tiadakah guru yang pendiam?

Segera tanya kami terjawab “Ada, isteri awakkan pendiam itu..”

Kami hanya tersenyum saja dalam hati, tanya di hati di jawab di hati dan tersenyumpun dalam hati. Namun akhir-akhir ini isteri kami agak nyinyir rasanya..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s