Seminar PDRI (Bag.1)

Suasana di ruang seminar
Suasana di ruang seminar

Selama dua hari yakni Senin – Selasa[1]  kami ditugasi oleh kantor untuk menghadiri acara Dialog Sejarah Perjuangan Daerah Sumatera Barat yang diadakan oleh salah satu dinas di lingkungan pemerintah Provinsi Sumatera Barat. Acara ini diadakan di Hotel Royal Denai yang berada di depan Rumah Sakit Ahmad Muchtar Bukit Tinggi.

Sungguh senang hati mendapat tugas ini, karena Insya Allah akan ada tambahan ilmu untuk kami, apalagi kami dengar beberapa orang pemapar[2] ialah dosen kami dahulu di Jurusan Sejarah Unand.[3] Sebenarnya acara ini merupakan acara yang kedua, acara pertama telah diadakan di Kota Padang sebulan yang lalu, ketika itu kami tiada mendapat undangan.[4] Kami tahu perihal acara di Padang dari kawan-kawan kami di Sawah Lunto.

Dengan semangat kami persiapkan segalanya, karena acara ini dua hari berarti kami akan diberi tempat menginap di hotel tersebut. Kami putuskan untuk membawa onda saja, sebab akan bermalam, siapa tahu oto perguna oleh adik kami di rumah nanti. Maka dengan perasaan senang berangkatlah kami ke hotel, namun sebelum itu kami singgah dahulu ke kantor guna mengambil undangan yang terlupakan, setiba di kantor kami mendapat pandangan sok ikut campur dari salah seorang staf di kantor “Kenapa engkau tak memakai seragam..!” makhluk serupa ini selalu ada dimana-mana, cis.

Di hotel kami disuruh menyerahkan suarat tugas dari kantor dan undangan yang dikirimkan ke kantor kami, serta menanda tangani daftar hadir yang dibuat rangkap banyak. Selepas itu kami diberi tas kecil yang di dalamnya telah terdapat tiga buah tulisan dari tiga orang pemateri[5] ditambah buku catatan dan satu pena. Kemudian kami bingung hendak kemana, salah seorang staf Dinas Propinsi mengatakan “Engku tunggulah dahulu, kamar diurus oleh engku yang sedang bercakap-cakap dengan resepsionis itu..”

Selepas itu, salah seorang staf perempuan yang sedang duduk-duduk di kursi tunggu hotel mengkode engku yang sedang bercakap-cakap tersebut “Dari Bukit Tinggi..” kata staf perempuan yang menurut pandangan kami mungkin berusia akhir 40 tahunan.

Kemudian engku itu mendekati kami “Engku dari Bukit Tinggi..?” tanyanya kepada kami. Kamipun meangguk sambil meiyakan “Utusan dari Bukit Tinggi tak mendapat kamar, kan tuan rumah..” katanya “Silahkan engku menanti pembukaan sambil duduk-duduk disini..” katanya sambil menunjuk kursi tunggu.[6]

Pemandangan dari depan ruang seminar di Hotel Royal Denai. Tampak Balaikota di atas bukit nun jauh di sana
Pemandangan dari depan ruang seminar di Hotel Royal Denai. Tampak Balaikota di atas bukit nun jauh di sana

Kami hanya tersenyum “Tidak engku, biarlah saya nanti di luar saja..” tertawa kami dalam hati, bukankah tuan rumahnya Dinas Propinsi? Walau diadakan di Bukit Tinggi namun kami juga undangan disini. Tiada guna mengerutu, jalani saja. Tas yang berat karena diisi kain ganti bertambah berat saja jadinya, untung adik kami sedang berada di Pasa[7] jadi dapat kami mintai tolong untuk membawakan kembali tas kami pulang. Ketika mengambil tas tersebut adik kami tertawa terbaha-bahak “Tulah tuan, sudah dinda katakan tadi kalau bisa saja tuan di suruh pulang oleh panitia..”

Acara ini dihadiri oleh Veteran Perang,[8] Tokoh Masyarakat, Bundo Kanduang, Utusan Instansi, Dosen & Guru Sejarah, Pemerhati Sejarah, Mahasiswa & Pelajar, dan beberapa pihak lainnya. Pembukaan yang direncanakan pukul empat, undur menjadi setengah lima, dibuka sendiri oleh Kadis dari Dinas Propinsi tersebut sekaligus menjadi pemapar pertama dengan judul paparan Nilai-nilai Budaya dan Sejarah Sebagai Pembentukan Karakter Bangsa.

Dalam menyampaikan pemaparannya, engku Kadis cukup baik, bahkan kami terkesan dengan beberapa paparannya seperti kisahnya perihal pengalamannya bersua dengan Yusuf Kalla yang saat ini kembali menjadi wapres. Engku Yusuf Kalla ketika bertandang ke Kantor Gubernur Sumbar pernah berujar “Pahlawan dari Sumbar ada dua jenis yakni kalau tak seorang ulama berarti seorang ilmuwan”.

Engku Kadis juga menyampaikan kesedihannya akan watak dan mentalitas generasi muda sekarang yang tidak seperti generasi muda dahulu “Kalau dahulu lepas SMA pergi merantau berani orang tua melepas, namun kalau sekarang lepas SMA pergi merantau maka berfikir dahulu orang tua melepas..” kemandirian pada generasi muda Minang pada masa sekarang telah hampir tiada, demikianlah kira-kira.

Pemaparan dan tanya jawab berakhir pada pukul enam, semenjak Ashar hujan lebat telah melanda Kota Bukit Tinggi “Bagaimana ini hendak pulang, awak membawa onda pula..”

Kami berkeinginan untuk pulang, walau telah diumumkan oleh panitia bahwa pukul delapan malam acara masih dilanjutkan. Kami tiada hendak menghadiri, salah sendiri kenapa kami tidak diberi kamar untuk menginap. Namun pendirian kami tersebut runtuh tatkala bersua dengan tiga orang dosen kami, Prof. Gusti Asnan, Dr. Nopriyasman, dan Drs. Syafrizal, M.Hum. Kami meminta izin kepada beliau bertiga untuk tidak hadir malam ini “Janganlah serupa itu, Engku Syafrizal dan Engku Doktor akan memberikan pemaparan malam nanti..” ujar Engku Profesor.

Kami terkejut dan bimbang “Insya Allah engku, kami usahakan, biarlah kami pulang dahulu dan nanti kami akan usahakan hadir..” tampaknya engku profesor mengerti dengan keadaan kami, apalagi beliau juga tahu kami berasal dari Kamang yang 12 Km jaraknya dari Bukit Tinggi.

Hujan sepanjang jalan, kadang rinai, kadang lebat. Sungguh kami kesal bukan kepalang “Tuan Rumah tak dapat kamar…” Tuan Rumah Dari Hongkong.

Bersambung ke bag.2

[1] Tanggal 24 – 25 November 2014

[2] Pemateri

[3] Universitas Andalas

[4] Undangan ada sampai ke kantor kami namun diberikan ke Bidang yang salah.

[5] Tiga tulisan lainnya diberikan menyusul, adapun kami tiada mendapat sampai acara berakhir. Kemungkinan dibagikan pada malam hari di hotel. Kami meminta sisa tiga tulisan yang tiada kami miliki di akhir acara.

[6] Kawan kami yang pernah ikut pada acara ini ketika diadakan di Padang dahulu mengatakan kalau dahulu orang Padang juga tiada mendapat tempat menginap.

[7] Sebutan orang Agam Timur terhadap Bukit Tinggi

[8] Terutama veteran Perang masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s