Iri kepada Backpacker

Ilustrasi Gambar: Internet
Ilustrasi Gambar: Internet

Hari Jum’at ialah harinya pergi menuju Kota Padang, hari Ahad kami akan kembali ke Bukit Tinggi. Demikianlah, bertolak belakang dengan apa yang kami alami ketika masih kuliah dahulu. Kami berangkat selepas jam pulang kantor.

Menuju Padang banyak pilihan bus yang dapat dipilih, ada bus dari Payakumbuh yang dapat kita naiki di Simpang Jambu Aia atau dimanapun kita menghentikannya. Ada bus khusus dari Bukit Tinggi menuju Padang yang menaikkan penumpang di muka sekolah SMA N 3 di Aua Kuniang.* Diantara bus ini ada juga yang mencari penumpang di jalan serupa bus dari Payakumbuh menuju Padang. Namun ketika kembali ke Bukit Tinggi kami lebih suka naik bus jurusan ke Payakumbuh karena di Padang kami tinggal di dekat Simpang Kalumpang.

Kami lebih senang dengan salah satu perusahaan bus yang telah semenjak kuliah kami naiki busnya. Entah kenapa kami begitu suka dengan bus ini, mungkin karena bus ini ber-ac dimana jendelanya selalu ditutup. Kami suka masuk angin apabila jendela dibuka. Namun dalam banyak kejadian jendela tersebut tetap dibuka oleh para gadi-gadis “rancak” yang suka bersolek dan berpakaian layaknya perempuan “Gehol” namun kebiasaan kampungan mereka tiada dapat diubah, tak sanggup naik oto ber-ac.

Pada Jum’at kali ini** kami kembali menumpangi perusahaan bus yang telah jadi langganan kami. Biasanya kami selalu mendapati bus kosong melompong ketika naik namun kali ini rupanya telah berisi setiap barisnya kecuali barisan paling belakang. Kami duduk di barisan paling belakang.

Tak lama setelah kami naik, maka naiklah sepasang pelancong asing, kami tiada tahu dari mana mereka berasal yang jelas bukan dari negara berbahasa Inggris sebab bahasa yang mereka pakai bukanlah Bahasa Inggris. Tampaknya kedua pelancong ini ialah Pengelana atau Backpacker. Si perempuan sempat bertanya kepada kami dengan menggunakan Bahasa Inggris yang beraksen perihal berapa lamanya bus akan sampai di Padang. Selepas itu kami tiada bercakap-cakap lagi.

Telah lama kami merasa iri dengan orang-orang yang melakukan perjalan backpacker ini, apalagi telah beberapa buku yang ditulis oleh para backpacker yang mengisahkan perjalanan mereka melintasi negeri-negeri asing. Namun apa hendak dikata, status sebagai pegawai tiadalah memungkinkan kami untuk pergi mengelana menziarahi berbagai negeri asing, apalagi telah beristri pula.

“Bawalah isteri engkau..!!” kata engku. Isteri awak tentulah berbeda engku, kalau isteri engku dapat dibawa kemana-mana sambil backpacker maka tiada demikian dengan isteri kami, berlainan awak. Selain itu pertimbangan masing-masing kitapun berlainan pula.

Bagi orang yang tiada faham maka para backpacker ini digelari sebagai “Pelancong Melarat” padahal mereka inilah pelancong sesungguhnya. Berjalan mengelana mengunjungi berbagai negeri yang kemudian akan menjadi kenangan hidup mereka, dikisahkan ke orang-orang yang mereka kenal. Sebagai pelancong melarat jangan diharap mereka akan mencari kedai oleh-oleh ataupun cendera mata. Oleh-oleh dan cenderamata tersimpan dengan baik di dalam catatan, memori kamera, dan memori kepala mereka.

Sungguh sedih membayangkan diri ini telah terikat dengan ikatan dinas, melancong, mengelana, dan bertualang tinggal angan-angan saja. Seorang sejarawan itu ialah seorang pengelana yang menjadi kaya dan arif dengan pengalaman, sejarah, dan kebudayaan negeri-negeri yang mereka kunjungi. Agaknya kami tiada termasuk jenis sejarawan yang demikian.

*Aur Kuning

** 14 November 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s