Suatu Petang di Muaro Panjalinan

Pantai di Muaro
Pantai di Muaro

Ayo kita ke Padang, hendak melihat ombak, hendak bermain di pantai, hendak melihat kapal terbang, hendak melihat kereta api ‘tuit..tuit..’

Laut itu airnya asin, kenapa engku?

Kenapa kereta api tiada sampai ke Bukit Tinggi? Bukankah di tempat kita juga ada rel kereta api?

Kenangan masa kanak-kanak

 

Telah lama kami tinggal di Kota Padang namun kami belumlah pernah melihat laut, kecuali sambil lalu saja. Malas kami apabila hendak pergi ke Taplau[1] karena tiada nyaman apabila pergi kesana, namun pada suatu ketika tatkala sedang menumpang Trans Padang, tatkala bus tersebut sedang melaju di atas sebuah jambatan mata kami tertuju kepada ujung sungai yang kami lintasi “Tuan belum pernah melihat secara langsung – kecuali dari atas pesawat terbang atau televisi – serupa apakah pertemuan air laut dan air sungai itu..?”

Isteri kami menanggapi penuh minat “Kesanalah kita nanti tuan, apabila ada masa..” jawab isteri kami.

Perahu bercadik dan orang-orang yang sedang mejeng
Perahu bercadik dan orang-orang yang sedang mejeng

Setelah beberapa lama menanti akhirnya kami putuskan untuk pergi pada suatu petang hari nan berawan, hari hujan semenjak tengah hari di Kota Padang, ketika kami berangkat dari rumah hujan masih turun rinai (rintik-rintik).  Kami masuk melalui Simpang Muaro Panjalinan arah ke Pasir Jambak, begitu melintasi rel kereta api kami membelok ke kiri. Selepas itu kami lalui saja jalan tersebut hingga ke ujung hingga bersua dengan garis pantai.

Kami berjalan menyisiri sungai[2], beberapa kapal nelayan sedang parkir di tepi sungai, sungguh kami yang orang Darek[3] ini merasa takjub dengan kapal-kapal besar bercadik tersebut, sebab sekali-kali mendapati. Selain kapal yang parkir di tepi sungai, beberapa sejoli juga tengah asyik memadu kasih di onda yang mereka parkirkan di pinggir jalan di tepi sungai. Tidak hanya beberapa pasang kekasih, terkadang ada jua beberapa orang remaja sama besar duduk-duduk di atas onda mereka sambil bercakap-cakap, entah apa yang dipercakapkan.

Beberapa tali kapal melintang ditengah jalan dan terkadang meregang apabila kapal yang ada di sungai terbawa oleh air agak ketengah. Tali-tali tersebut diikatkan kepada batang kayu yang ada ditepi jalan, kami agak cemas juga melintasi tali ini, serupa tanggul[4] yang kami dapat pada jalan-jalan kecil.

Muaro - Muara
Muaro – Muara

Rupanya banyak juga orang-orang yang berjalan-jalan pada petang hari ini di tepi pantai. Ada yang duduk-duduk berkelompok, ada engku-engku nelayan yang tegak-tegak sambil bercakap-cakap dengan kawannya, serta pasangan kekasih. Dipenghujung jalan kami mendapati suatu lapangan luas yang dibatasi oleh Pohon Cemara dengan bibir pantai. Lapangan ini dipakai oleh orang-orang untuk bermain voli dan sepak bola. Ketika kami sampai, orang-orang sedang ramai bermain voli.

Nun tak berapa jauh di tepi pantai kami dapati beberapa orang memanfaatkan ombak yang akan pasang guna bermain selancar. Selama ini kami selalu bertanya-tanya kenapa tiada orang berselancar di pantai di Kota Padang ini? sekarang kami telah mendapi. Tampak oleh kami seorang pelancong asing duduk-duduk tak jauh dari bibir pantai mengamati para inlander[5] ini bermain selancar. Beberapa orang kami tengok ada yang mencoba-coba peruntungan untuk memancing ikan, ada pula beberapa penduduk yang berjalan mengikuti garis pantai sambil mengemasi beberapa sampah yang dipandang berguna bagi mereka. Selain itu bibir pantai ini juga menjadi tempat perlintasan bagi penduduk setempat.

Pandangan kami tertumbuk kepada sekelompok orang yang sedang mandi-mandi sambil bermain ombak, namun ada yang aneh dua orang diantara mereka berpegangan tangan, rupanya mereka pasangan kekasih. Sungguh aneh di petang hari nan mendung dan berkabut ini ada jua orang yang mandi-mandi di pantai. Kami amati betul-betul, rupanya selain sepasang kekasih itu selebihnya ialah kanak-kanak. Kami dan isteri kami hanya memandangi dengan sedih kejadian tersebut.

Seorang bule (duduk-kanan) sedang menengok para peselancar
Seorang bule (duduk-kanan) sedang menengok para peselancar

Ada juga beberapa orang mahasiswi yang memanfaatkan batu-batu pemecah ombak yang ada di pantai ini sebagai tempat belajar, mereka tengah asyik menulis sambil sesekali memandangi ombak-ombak yang semakin besar seiring dengan bergantinya petang menjadi magrib.

Berfoto ialah sesuatu yang mesti dilakukan pada saat-saat sekarang ini guna mengabadikan kunjungan kami. Namun isteri kami tiada hendak difoto sendiri, dia henaknya difoto berdua dengan kami “Bagaimanalah caranya ini..?”

Akhirnya kami menggunakan fitur otomatis pada kamera saku dan kemudian meletakkan pada batu pemecah ombak. Namun sayang hasil beberapa kali pengambilan gambar tiada bagus karena terlalu jauh dan tiada fokus. Namun ada jua yang bagus, kami kemudian memanfaatkan perahu bercadik yang sedang diparkir di bibir pantai sebagai tempat meletakkan kamera.

Tatkala sedang asyik-asyiknya kami mengambil gambar bersama isteri kami, tiba-tiba dari arah pantai muncul dua sejoli yang tadi mandi-mandi. Dengan tenang tanpa menghiraukan tatapan mata beberapa orang mereka terus berjalan ke arah batu pemecah ombak karena segala perkakas serupa tas dan baju kering mereka ada di sana. Kebetulan di dekat mereka meletakkan barang-barang tersebut sedang berdiri dua orang engku yang sedang memancing ikan. Semenjak kemunculan mereka hingga ke atas batu, kedua pasangan tersebut menjadi perhatian, terutama si perempuan yang karena basah meakibatkan pakaiannya melekat kepada tubuhnya sehingga lekuk-lekuk tubuhnya terutama tubuh bagian bawah menjadi kelihatan.

Dua sejoli nan tak hendak peduli
Dua sejoli nan tak hendak peduli

Namun yang paling mengejutkan ialah ternyata si perempuan rupanya memakai jilbab. Begitu sampai di atas batu tempat barang-barang mereka letakkan, si perempuan kemudian memakaikan jilbab mereka. Sungguh kami terkejut sekaligus malu melihatnya “Kalau seandainya kaum SEPILIS melihat ini tentulah mereka sudah tertawa terbahak-bahak memojongkan umat Islam..”

Isteri kami sangatlah kesal dibuatnya “Rasa akan dinda remas perempuan itu tuan..”

Sungguh rasa malu memang telah habis agaknya..

Sungguh sayang cuaca mendung dan berkabut, kalau tidak tentulah kami telah dapat menyaksikan matahari terbenam dari sini. Namun tak lama kemudian hujan rintik-rintik mulai turun kembali tatkala kami telah hendak berangkat pergi.

Tak bermalu
Tak bermalu

[1] Tapi Lauiak

[2] Yang kami tiada tahu apa nama sungainya, tatkala kami tanyakan pula kepada beberapa orang kenalan di kota ini mereka tiada pula tahu.

[3] Darek merupakan daerah pedalaman Minangkabau yang terbagi kepada atas tiga Luhak yakni Luhak Tanah Data, Agam, dan Limo Puluah Koto

[4] Polisi Tidur

[5] Pribumi

Advertisements

2 thoughts on “Suatu Petang di Muaro Panjalinan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s