Amai penjual Samba..

Si Amai yang datang dari Ombilin
Si Amai yang datang dari Ombilin Dua panci (satu panci terletak dalam baskom hitam) yang dijunjung oleh Amai ini. Di tambah asoi (kantong plastik) merah yang dijinjingnya.

Semenjak mula bekerja di kantor baru, kami merasakan banyak hal-hal berbeda yang kami alami dibandingkan dengan kantor kami nan lama. Salah satu perbedaan yang kami rasakan tersebut ialah banyaknya para pedagang keliling yang keluar masuk kantor kami menjajakan barang dagangan mereka. Selain itu para pengemispun ikut-ikutan pula ambil bagian bergerilya dalam mencari rezeki. Namun ada yang berlainan terasa pada hari Selasa ini (21 Zulqaidah 1435/ 16 Sept 14), kami telah banyak mendapati para pedagang keliling – baik itu penjual makanan, kain, aksesoris, hiasan, dan lain sebagainya – keluar masuk kantor kami. Sebagian besar dari mereka masihlah berusia muda, paling tua mungkin sekitar akhir 40 tahunan, namun hari ini, yang datang ialah seorang amai-amai yang berusia sekitar 60 tahunan.

Kami terkejut, terbit rasa iba, kami lihat beliau membawa dua buah panci yang berisi penuh dengan Randang dan Pangek. Kami tiada melihat adanya gerobak “Tentulah kedua panci-panci ini dijunjung oleh beliau di atas kepala..”

Memang benar, nampak oleh kami kain panjang yang biasa digelung sebagai alas barang bawaan apabila diletakkan di atas kepala. Kami pandangi kedua panci yang penuh berisi samba tersebut, kami pandangi pula amai ini “Duhai.. alangkah ibanya beliau, kami yang muda saja berfikir dua kali untuk membawa kedua panci penuh ini di atas kepala, apatah beliau ini yang sudah tua..”

Kami coba bertanya-tanya agak sedikit kepada beliau, rupanya beliau ini berasal dari Ombilin, sebuah nagari dekat Danau Singkarak, datang ke Bukit Tinggi pada pagi hari, biasanya pada pukul setengah delapan beliau telah sampai namun berlainan dengan hari ini, pukul sembilan baru sampai di Jambu Aia “Ada oto tamalintang* di jalan sehingga terpaksalah bus yang amak tumpangi berjalan berputar..” kata beliau.

Dari Jambu Aia beliau berjalan terus ke arah pusat kota, sungguh jauh perjalan beliau ini dengan menjujung kedua panci di atas kepala. Beliau berkata “Inilah yang dapat amak kerjakan untuk mendapatkan rezki yang halal nak..”

Terbayang oleh kami, alangkah sedihnya beliau apabila jualan beliau ini tiada habis, tentulah sedih terasa di hati, sejauh itu perjalanan yang ditempuh untuk mendapatkan sesuap nasi. Namun tatkala kami tanyakan perkara tersebut beliau menjawab “Alhamdulillah nak, ada habis jualan amak ini. Biasanya pukul enam petang amak telah sampai di Aua..”**

Sungguh teriba kami melihat beliau, diseumuran beliau beberapa orang tengah bersenang-senang menikmati masa pensiun. Namun tidak dengan beliau, mesti mengeluarkan tenaga jua untuk mendapatkan bekal dalam menyambung hidup. Segan kami bertanya perihal keluarga beliau, dunsanak lelaki, anak-anak, cucu, ataupun kerabat lainnya.

Malu terasa dikala menghisab diri, beliau berulang ke Bukit Tinggi dari Ombilin, naik bus, sambil membawa barang dagangan, sedangkan kami yang setiap hari berulang dari Kamang ke Bukit Tinggi masih jua merasa penat. Semoga Allah Ta’ala selalu melimpahkan kesabaran, kesehatan, keselamatan, kekuatan, dan rezki yang banyak untuk beliau. Amin..

*Terbaring, rebah

**Aur Kuning, Terminal

Advertisements

One thought on “Amai penjual Samba..

  1. Reblogged this on Febrina Rakhmi Site's and commented:
    Petang hari kemarin aku melihat seorang perempuan muda yang kemungkinan berumur akhir 20 tahunan atau awal 30 tahunan. Perempuan itu lalu di hadapan rumah ku sambil berteriak lemah “Sapuu..”. perempuan itu ialah pejagang sapu keliling. Sapu yang dijualnya ialah sapu plastik yang biasa kita gunakan untuk menyapu lantai di rumah. Sapu-sapu tersebut diikat dan dijunjung di atas kepala, sekitar dua atau tiga dipegang olehnya, adapun dua buah tas disandang menyamping. Bergetar hati ku melihatnya, terbit rasa iba, dan syukur terucap kepada Allah Ta’ala karena aku dianugerahi kehidupan yang lebih baik, malu terbit di hati tatkala mengenang betapa diri ini masih tiada tahu dengan untung karena acap juga mengeluh. Kami tiada sempat memanggil untuk membeli dagangannya, karena kesadaran kami hilang agak beberapa saat karena tercenung melihat si penjual sapu.
    Semoga Allah Ta’ala memberikan kelapangan, kemudahan, hidayah, serta rezki bagi si penjual sapu itu. Hanya do’a yang dapat ku berikan kepada si penjual sapu.
    Sebagai sesama perempuan aku salut..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s