Si Engku & Tukang Pangkeh

Ilustrasi Gambar: Internet
Ilustrasi Gambar: Internet

Bersua dengan kawan kami, kami terkejut tatkala melihat janggutnya sudah tiada lagi “Apa gerangan telah berlaku engku..?” tanya kami. Kawan kami ini hanya diam tersungut, kamipun menyesali diri karena telah bertanya.

“Hari Ahad kapatang, kami pergi menggunting rambut engku, sungguh durjana Tukang Pangkeh rambut itu. Awak minta cuma ditipiskan namun malah dicukur habisnya, semoga lumpuh tangan Tukang Pangkeh itu..!!” jawab kawan kami berapi-api.

Tiada tahu kami bagaimana hendak menanggapi, apakah tertawa terbahak-bahak mengingat kisah dari kawan kami ini dapat kami kategorikan kepada lawak namun di lain sisi juga tragis. Kamipun pernah mendapat pengalaman serupa dengan kawan kami ini, kami minta janggut kami ditipiskan namun oleh Tukang Pangkeh malah di cukur, tinggal sepanjang satu mili meter saja lagi.

Kawan kami inipun melanjutkan kekesalannya “Sudahlah awak menanti pula baru dapat giliran dipangkeh rabut ini, namun yang tiada awak suka ialah tangan Tukang Pangkeh ini kasar, kepala awak ini dianggapnya barang saja, dan yang lebih menyakitkannya lagi ialah tatkala baieh (mencukur rambut bagian tepi) Si Tukang Pangkeh Durjana mencukur dengan keras sampai salah satu jerawat kami berdarah. Pada hal pengalaman kami, para Tukang Pangkeh pasti dapat meakali agar jerawat tiada sampai kena. Selepas itu, bayarannya mahal pula, tiada masalah bagi kami dalam kondisi normal namun dalam keadaan serupa yang kami hadapi Kapatang, mengumpat kami dibuatnya..”

“Dimanakah tempatnya itu engku..?” tanya kami penasaran.

Dijawab oleh kawan kami dengan menyebut salah satu tempat di dekat Bukit Tinggi, kami berjanji dalam hati tiada akan pernah menghampiri tempat potong rambut durjana itu. Sungguh kami telah beberapa kali mendapat perlakuan kurang mengenakkan dari Tukang Pangkeh, hanya karena kami ini berjanggut, diskriminasi selalu mewarnai hidup kita ini agaknya.

“Memanglah demikian keadaan sekarang, orang berjanggut serupa kita ini selalu mendapat perlakuan kurang mengenakkan. Para Ahli Fitnah berkoar-koar perihal pluralisme, namun di satu sisi mereka bersikap diskriminatif kepada fihak yang tiada mereka sukai. Sungguh masyarakat kita pada masa sekarang tengah berada dalam keadaan mengenaskan engku, setiap hari mereka mendengar fitnahan dan percaya dengan kabar fitnah yang disampaikan itu..”

Kamipun mengamini, apalagi kalau kita ini memakai gamis, akan segera ditanya “Ha… Islam aliran pula engkau ini..” atau “Berhati-hatilah engkau, nanti kena tangkap..!” sebab yang berjanggut dan bergamis ialah teroris. Beragam sikap diskriminatif telah kami terima, semuanya menginsyafi kami bahwa masyarakat kita walau mereka berpendidikan tinggi namun sesungguhnya mereka masih berada dalam kepandiran..

“Tahukah engku, masih ada lagi kemalangan yang saya terima dari Tukang Pangkeh itu?” kata kawan kami ini kepada kami.

“Apa itu engku..?” jawab kami

“Cukurannya kurang bersih engku, terpaksa kami ulang lagi di rumah selepas itu uang kembalian kamipun kurang, alasannya karena kehabisan uang kecil..” kisah kawan kami ini.

Sungguh kami tiada faham dengan keadaan sekarang, sudah demikian besarkah kebencian mereka kepada Orang Berjanggut serupa kami ini?? Memanglah betul: Fitnah itu lebih kejam dari pada pembunuhan..

Demikianlah kisah kawan kami nan malang ini, semoga tidak terjadi kepada engku-engku sekalian…

 

Advertisements

One thought on “Si Engku & Tukang Pangkeh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s