Berebut Diskon..

Ilustrasi Gambar: Internet
Ilustrasi Gambar: Internet

Petang Jum’at yang lalu kami berjalan-jalan bersama isteri kami ke sebuah pusat perbelanjaan di Kota Padang, tujuan utama isteri kami ialah guna mencari pakaian baru untuk kami hal ini karena kami sangatlah sedikit sekali memiliki pakaian sehingga sering menjadi bahan olok-olokan bagi adik-adik kami.

Rupanya berbelanja pakaian itu sangatlah susahnya, semua baju dan celana terlihat bagus-bagus, kalau ada yang sesuai namun ukurannya yang tidak cocok, ada yang ukurannya yang pas namun baju atau celananya yang kurang suka. Sehingga untuk membeli beberapa helai kain saja membutuhkan waktu lebih dari sejam. Kesemua pilihan kami serahkan kepada isteri kami sebab kami tiada faham soal perkara yang satu ini, kami hanya memberi pendapat sedikit-sedikit saja.

Terdapat dua kisah menarik selama pencarian kami ini, pertama perihal isteri kami, tatkala hendak membelikan baju kaos oblong lengan pendek kami menengahnya karena kami lebih suka baju kaos yang berlengan panjang, dengan tersenyum mesra isteri kami mengiyakan dan mengambil baju kaos lengan panjang yang kami sukai tersebut. Namun anehnya tatkala kami tanya “Kenapa baju kaos lengan pendek itu tidak dinda kembalikan saja..?”

Dengan tidak mengurangi senyumnya isteri kami menjawab “Biarlah tuan, yang lengan panjang untuk dipakai di luar rumah sedangkan yang lengan pendek untuk dipakai di dalam rumah..”

Ah.. ada-ada saja, kami berdua sama-sama tertawa, gemas kami ini dibuatnya namun apa boleh buat, tiada dapat baju itu lepas dari tangan apabila sudah berada dalam genggaman. Teringat kami dengan kisah adik perempuan kami semasa kanak-kanak, apabila dibawa oleh kedua orang tua kami untuk membeli pakaian, sandal, atau sepatu maka biasanya orang tua kami akan mencobakan terlebih dahulu kepada adik kami tersebut, apakah pas atau cocok atau tidak. Namun niat tersebut biasanya berujung kejenakaan karena tatkala pakaian, sandal, atau sepatu tersebut hendak dilepas maka adik kami akan merengek atau menangis, tiada hendak ia. Maka terpaksalah dibeli jua..

Agaknya sifat adik perempuan dan isteri kami memiliki kesamaan, atau jangan-jangan ini sudah merupakan sifat perempuan secara umum? entahlah..

Kisah yang kedua ialah tatkala kami balik dari makan malam dan kembali  ke tempat diskon pakain, kami menemukan tempat menjual jeket yang bagus dan diskonnya bagus pula namun sayang jaket telah kami beli pada saat sebelum makan. Sungguh kesal sekali hati ini dibuatnya, isteri kami menawarkan “Bagaimana kalau kita beli saja satu untuk tuan, biar yang ini untuk dinda..”

“Biarlah dinda, lain-lain waktu kita beli..” jawab kami, namun sesungguhnya hati kami ini kesal tiada ampun. Kenapa tidak terlihat sedari tadi?

Memanglah godaan obral sekian persen sangatlah mempan sekali untuk menarik pembeli, terbukti kami dan isteri termakan bujuk rayu tersebut. Walau kami dengar kabar bahwa sebenarnya untung yang didapat penjual tetap jua banyak, namun tampaknya hal tersebut ialah rahasia orang berniaga..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s