Surau Kami Dahulu & Kini

Kawan-kawan mengaji semasa di surau dahulu bersama seroang guru perempuan, Buk Beth kalau kami tak salah. Pada masas sekarang sebagian kawan-kawan sudah ada yang punya anak pula.
Kawan-kawan mengaji semasa di surau dahulu bersama seroang guru perempuan, Buk Beth kalau kami tak salah. Pada masas sekarang sebagian kawan-kawan sudah ada yang punya anak pula. Surau kami berlainan dengan surau-surau yang lain dimana anak mengaji diwajibkan memakai seragam. namun kepada kami tidak demikian, berpakainalah sesukanya namun harus sesuai dengan tempat dan keadaan.

Terkenang dengan masa mengaji di surau semasa kanak-kanak dahulu tatkala pagi ini selepas subuh kami pergi menjanguak (takziah) bersama para jama’ah di surau kampung kami. Sesampainya di rumah orang nan kemalangan kami semua membaca Surah Yassin. Dengungan suara orang mengaji memenuhi setiap sudut rumah, beberapa orang ada yang jelas bacaan Al Qur’annya dan sebagian lain hanya dengungan saja.

Sebelumnya telah pernah pula kami pergi manjanguak dan membaca Surah Yassin namun entah kenapa padapagi hari ini ingatan kami terbang ke masa silam. Bertahun-tahun nan lalu tatkala kami masih kanak-kanak, memakai kopiah dan membawa Al Qur’an tak berapa lamanya selepas tiba di rumah ketika pulang sekolah. Setengah tiga kalau tak salah kami masuk mengaji. Sampai kepada pukul setengah lima atau ada pula yang sampai kepada pukul lima petang hari.

Apakah karena ada seorang kawan kami yang merupakan kawan mengaji dahulu yang duduk membaca Qur’an dengan khusyuk di sebelah kami? Ataukah karena kami pada saat ini sedang berada di rumah guru mengaji kami dahulu di surau. Engku Guru kami inilah yang pada saat ini sedang ditimpa kemalangan karena anak lelaki ke-3nya meninggal dunia pukul tiga kurang seperempat petang hari sehari yang lalu.

Dahulu, engku guru ini duduk di muka kelas dengan dikawani tongkat rotan kira-kira sepanjang 60 cm yang diletakkan di atas meja guru. Disaat kami disuruh membaca kaji bersama-sama dimana suara dengungan terdengar memekak telinga. Hal ini dikarenakan suara kanak-kanak yang belum akil balig yang melengking serupa itiak (bebek) pulang ke kandang. Terdengar sampai ke tepi jalan di hadapan suarau kami. Apabila ada yang tak membaca kaji, maota-ota dengan kawan sebangku atau di sebelah, maka engku guru akan segera mengambil rotannya dan kemudian melacuti kami yang mada-mada (bandel) itu.

Apabila terlihat gerakan dari arah meja guru, yang paling malang ialah anak yang kedapatan tak memabaca kaji. Bagi yang lain yang juga tak membaca kaji namun tak terlihat oleh engku guru maka dengan cepat akan segera kembali membaca kaji sehingga terhindar dari lecutan rotan engku guru.

Sekarang, semua itu tinggal kenangan, masa itu telah berlalu dan tiada akan dapat diulang. Gelak tawa kami semasa mengaji di surau merupakan kenangan manis yang tak terlupakan. Pada masa sekarang, tiada lagi orang mengaji di surau kami itu hal ini karena para pengurus sudah kehabisan kesabaran dalam menghadapi wali murid serta orang kampung. Apabila anaknya dimarahi maka orang tuanya akan mendatangi guru mengaji sambil marah-marah “Kenapa engkau marahi anak saya, payah saya membesarkannya ini, ikutkah engkau memberi makan ia..”

Apabila dimintakan uang mengaji, seribu alasan diberi oleh paraorang tua. Tak hendak mereka melunasi, Namun kalau uang sekolah yang diminta, maka tanpa diulangi para orang tua akan segera melunasinya. Bahkan ada yang sampai berhutang demi melunasi uang sekolah anaknya. Dunia lebih utama agaknya pada masa sekarang ini. Tak terfikir oleh mereka bahwa para guru mengaji ini harus mendapat bayaran pula sebagai pengganti peluh mereka dalam mengajarkan agama kepada anak-kamanakan kita.

Adapun halangan dengan orang kampung ialah kesulitan dalam mengumpulkan sumbangan untuk menggaji guru. Mengharapkan uang dari para wali murid untuk menggaji guru mengaji ialah suatu kemustahilan. Maka setiap bulannya beberapa orang ibu-ibu akan berjalan keliling kampung guna meminta beras untuk membayar gaji guru mengaji serta sebagai penambah kas surau dan jorong (kas kampung). Kagiatan inipun sangatlah beratnya karena banyak dari orang kampung yang mangkir dari kewajibannya itu. Tiada hukuman dari kampung apabila tiada yang hendak membayar. Hanya berlandaskan kepada keikhlasan hati saja.

Akibatnya, telah bertahun-tahun lamanya surau kampung kami tiada orang mengaji disana. Lengang dari suara kanak-kanak. Tiada ada kanak-kanak mengaji berarti tidak ada diadakan didikan subuh pada Ahad pagi serta tiadak ada pula diadakan oleh orang acara Khatam Qur’an setiap tahunnya. Bahkan Musabaqah yang setiap bulan Ramadhan diadakan oleh orangpun ikut pula hilang ditelan oleh perubahan. Sungguh surau kami pada masa sekarang hanya dijadikan oleh orang sebagai tempat shalat saja lagi. Kalau pada hari biasa orang menunaikan shalat Subuh, Magrib, dan Isya berjama’ah sedangkan pada bulan puasa ini Alhamdulillah kelima waktu ditunaikan oleh orang shalat di sini.

Semoga saja dimasa depan ada orang yang dapat menghidupkan kembali surau kami dan memakmurkan Rumah Allah ini, Amin..

Advertisements

One thought on “Surau Kami Dahulu & Kini

  1. Reblogged this on shahira site's and commented:
    Terkenang akan masa kanak-kanak, pergi mengaji ke surau sepulangnya kami dari sekolah. Tidak hanya kami, hampir sebagian besar kanak-kanak di kampung kami pergi mengaji selepas pulang sekolah. Surau tempat ku mengaji terletak di sebelah rumah, hanya perak milik orang dari Suku Bodi saja yang membatasinya. Pada masa sekarang tiada lagi kanak-kanak pergi mengaji ke surau kami tersebut. Bertahun-tahun nan lalu telah berhenti kanak-kanak mengaji ke sana. Sedih hati ini dibuatnya, sebab dengan demikian akan serupa apa nasib kanak-kanak di kampungku kelak. Dengan tiadanya anak mengaji maka tiada pula perayaan Khatam Qur’an diadakan di kampung (jorong) ku..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s