Kisah dari Biel

Sumber Gambar: http://www.yourswissroots.ch/en/surnames.14.html?name=Ganz&gemeinde=Ipsach
Sumber Gambar: http://www.yourswissroots.ch/en/surnames.14.html?name=Ganz&gemeinde=Ipsach

Kami membaca kisah pertama pada buku Berjalan di Atas Cahaya[1] yakni mengenai perjalanan mereka ke Desa Biel atau ada juga yang menyebutnya dengan Bienne yang terletak di Negara Swiss. Menarik hati kami kisah mereka ini karena pada hari Ahad negeri ini sangatlah lengangnya. Bagi orang Swiss, Hari Ahad ialah hari berehat dan hari keluarga. Semua orang menghabiskan hari bersama keluarga sambil berehat. Bahkan orang-orang yang mereka temui di jalan sangatlah sedikitnya.

Terus terang kami tersenyum membaca kisah ini, kenapa? Karena pandangan orang Indonesia yang “Sok Moderen” berpendapat bahwa hari Ahad merupakan hari berpesiar ke sana-kemari. Menghabiskan hari bersama club, semacam klub sepeda, klub motor, atau klub-klub lainnya yang bertebaran di negeri kita ini.

Sudah menjadi pandangan di kalangan masyarakat banyak bahwa hari Ahad mestilah menjadi hari yang ramai dimana semua orang keluar untuk berpesiar, bersenang-senang, atau menghabiskan waktu ke tempat-tempat pelancongan serupa kebun binatang, tempat wisata, rekreasi, maupun hiburan.

“Kota yang ramai pada hari Ahad ialah kota yang ramai..” demikianlah pandangan orang-orang.

Oleh karena itu banyak orang yang berusaha untuk menghidupkan kota mereka disaat akhir pekan. “Jangan sampai lengang, malu awak dibuatnya, tanda kota kita terbelakang..” demikianlah pendapat sebagian orang.

Ketika masih kuliah dahulu kamipun mendapati seorang kawan yang berpandangan bahwa daerah yang maju sama dengan daerah yang ramai “Kampung saya itu maju, tengoklah ramai oleh orang-orang. Angkutan buspun sampai ke kampung saya. Berlainan dengan kampung engkau yang lengang..”

Namun dalam hati kami berpendapat berlainan, bahwa kemajuan taklah sama dengan keramaian. Banyak masalah yang disebabkan oleh keramaian, yang pasti ialah sampah yang bertumpuk-tumpuk, orang kencing sembarangan, jalanan yang macet karena dipakai oleh orang untuk berdangang, dan lain sebagainya.

Bagi kami, hari Ahad ialah hari untuk berehat, menenangkan diri, menghabiskan waktu bersama keluarga. Janganlah sampai ada pula kegiatan lain yang menggaduh hendaknya..

Beruntunglah kampung kami di dekat Bukit Tinggi keadaannya lengang apabila hari libur tiba, walau keadaan berlainan berlaku di Bukit Tinggi. Senang hati kami karena tenang dan tiada terdengar bising oleh orang ataupun kendaraan. Demikian pula dengan kota tempat kami bekerja sekarang, lengang pula pada saat hari libur tiba. Walau kami sedih juga dengan pandangan sebagian besar orang-orang disini yang berusaha meramaikan kota disaat hari libur. Terutama pada malam Ahad, diusahakan membuat hiburan agar sekalian orang keluar dari rumah mereka. Sungguh terpana kami dibuatnya..

Ada lagi yang membuat kami takjub yaitu keadaan Kampung Biel yang serba cukup segala saran dan prasarananya. Segala jenis angkutan ada demikian pula dengan jalan serta komunikasi dicukupkan oleh pemerintah mereka. Lapangan padang rumput mereka luas dimana sapi, domba, dan biri-biri bermain mencari makan. Keadaan demikian tak dapat kita jumpai di negeri kita. Tinggal jauh dari pemukiman ialah pertanda terpencil dan terkebelakang, sungguh suatu anggapan yang silap dari kita.

Kemana-mana orang menggunakan kareta angin, bahkan untuk menuju ke pemberhentian oto bus sekalipun. Berlainan dengan kita yang malas berjalan, dibuat orang angkutan trans namun malas berjalan ke tempat pemberhentiannya

“Terlalu jauh dari rumah..” kilah sebagian dari kita.

Sungguh ada suatu perasaan iri muncul dihati setiap membaca kisah perihal betapa syahdunya negeri-negeri di Eropa. Bilakah negeri kami akan serupa itu dan bila pulakah kami mendapat rezki untuk menziarahi berbagai negeri tersebut?

Hanya Allah Ta’alalah yang tahu..

 

[1] Hanum Salsabiela Rais, dkk. Berjalan di Atas Cahaya. Gramedia. Jakarta, 2013

Advertisements

2 thoughts on “Kisah dari Biel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s